Eduteater

Teater Antara Istilah Dan Pengalaman (5)

Oleh: Eko Santosa

  1. Langkah, kalimat, dan ruang

Di sebuah studio, beberapa orang pemeran melatihkan dialog sambil berjalan dari titik satu ke titik berikutnya dan kembali lagi. Mereka melakukan itu berulang-ulang. Kemudian pelatih menghentikan latihan itu dan mencoba memberikan arahan khusus untuk setiap orang. Seorang pemeran maju dan diminta untuk mengucapkan kalimat dialognya sambil berjalan menyeberang ruang studio dari titik satu ke titik lain. Pelatih secara teknis menentukan, titik henti sesuai kalimat dialog yang diucapkan. Oleh karena itu mereka terlihat menghitung langkah kaki, menyesuaikan kalimat dialog yang diucapkan agar tepat sampai ke titik henti seperti yang diarahkan. Model latihan yang sama diterapkan untuk beberapa pemain sesuai adegan yang dimainkan. Setiap selesai sesi, pelatih memberikan saran lanjut atau perbaikan dikarenakan titik henti kurang sesuai dengan kata dalam kalimat tertentu seperti dikehendaki, kalimat sudah atau belum selesai sebelum sampai titik henti, langkah kaki terlalu kaku dan terlihat seperti dihitung, dan lain sebagainya. Intinya, pelatih merasa belum pas sehingga perlu dilakukan pembenahan.

baca juga : Teater Antara Istilah dan Pengalaman (4)

Ketika pemeran tepat melakukan apa yang diarahkan, ia kemudian diminta pelatih untuk melatihkan hal tersebut secara mandiri. Latihan mandiri ini tentu saja termasuk ketepatan langkah dan kalimat yang belum tercapai. Atas saran ini, pemeran benar-benar melakukannya baik secara personal maupun ketika latihan dengan lawan main lain tanpa kehadiran pelatiah. Langkah kaki dan kalimat dialog yang dihitung sedemikian rupa untuk mencari ketepatan ekspresi dilatihkan mandiri oleh pemeran seringkali tanpa pertimbangan ketersediaan ruang. Bahkan, mungkin pelatih juga kurang menyadari hal ini. Ketersediaan ruang antara studio, ruang latihan pribadi, luar ruang, dan panggung tentu saja berbeda. Artinya, karena jarak dan luasan berbeda, maka ukuran tempuhnya pun menjadi berbeda. Jika memang ketepatan ekspresi yang ditekankan, maka hal ini semestinya benar-benar menjadi pertimbangan.

Pengabaian perbedaan jarak dan luasan ruang ini menghasilkan ekspresi yang tidak hanya tidak tepat melainkan justru terlihat kaku dan robotic karena itu tak berjiwa. Bayangkan saja seseorang menyelesaikan satu kalimat tertentu dalam 3 langkah dan ia melakukan hal yang sama di ruang yang lebih luas. Tentu saja langkah yang ia lakukan untuk menempuh luasan ruang yang ada menjadi janggal. Jika ia bersikukuh untuk melakukannya hanya dalam 3 langkah persis seperti yang ia latihkan sebelumnya di ruang berbeda, maka ruang yang tersisa (ruang kosong) menjadi semakin banyak. Jika ia memperbanyak jumlah langkah untuk menempuh luasan tersedia, maka pengucapan kalimat dialog yang ia lakukan akan mengikuti irama langkah tersebut. Hasil akhir dari kondisi ini adalah ekspresi yang berubah dari latihan sebelumnya. Sementara setiap perubahan yang dilakukan oleh seorang pemeran pasti akan mempengaruhi pemeran lain.

Perubahan yang dilakukan akan berdampak pada kerja ansambel yang telah dibangun sebelumnya. Jika semua pemain yang terlibat dalam adegan juga mengikuti perubahan, maka proses mencari ketepatan ekspresi dapat dilanjutkan (dengan ukuran antarpemeran). Akan tetapi jika pemeran lain bertahan dengan pendapatnya dengan tidak mau berubah dari latihan awal, maka latihan sesungguhnya sudah tidak bisa lagi dilanjutkan. Sebab hal ini kemudian akan melahirkan kondisi saling mengatur antara pemeran satu dengan pemeran lain. Hal yang sama sekali tidak boleh terjadi karena pemeran yang semuanya terlibat dalam adegan jelas tidak bisa menyaksikan pemeran lain secara jernih dari sudut pandang penonton. Jalan keluar paling mungkin bagi semua pemeran adalah tidak melakukan perubahan meskipun ruang yang tersedia lebih luas dari latihan sebelumnya.

Pilihan yang logis tersebut mensyaratkan keterlibatan langsung dan hanya dari pelatih atau sutradara untuk melakukan perubahan. Dengan kondisi semacam ini, pelatih mesti menentukan atau memformulasikan model latihan semacam ini dengan baik agar tidak sering melakukan perubahan terkait ketersediaan ruang. Untuk itu diperlukan kesediaan produksi menyediakan ruang latihan tetap serta kejelasan skala ruang panggung pementasan. Meski demikian, luasan area panggung satu dengan yang lain pun juga tidak mungkin sama sehingga ketika produksi pementasan dilakukan di lebih dari 1 panggung, konsekuensi perubahan tetap harus dilakukan. Pada kenyataan ini, model latihan dengan penghitungan langkah, kalimat, dan ruang untuk mencapai ekspresi tertentu tidak bisa dilakukan secara matematis. Artinya, latihan tersebut hanya dilakukan untuk mencapai pemahaman tertentu berkenaan dengan ekspresi. Selebihnya adalah kebebasan pemeran dalam melakoni ekspresi tersebut dan melupakan hitungan langkah terkait panjang-pendek kalimat dan ketersediaan ruang. Hitungan jumlah langkah terkait kata, dan atau kalimat untuk berpindah dari titik satu ke titik berikutnya (blocking) tidak akan melahirkan ekpresi yang hidup, justru mematikannya.

====bersambung====

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.