Eduteater

Teater Antara Istilah dan Pengalaman (6)

Oleh: Eko Santosa

  1. Penanda dinamika

Seorang pelatih atau sutradara berada di salah satu sudut ruang atau pinggir panggung, sementara para pemeran melatihkan dialog. Sepanjang dialog berjalan, pelatih atau sutradra tersebut menepukkan tangannya ke paha atau lantai dengan ritme/tempo tertentu. Terkadang tepukannya lambat, terkadang cepat, terkadang merambat dari lambat ke cepat atau sebaliknya, dan pada saat tertentu berhenti seiring berhentinya dialog atau ketika ada sesuatu yang ia rasakan kurang tepat sehingga perlu diperbaiki. Umum disaksikan, ketika pelatih atau sutradara melakukan hal ini, ia tidak atau kurang memperdulikan visualisasi adegan yang sedang berlangsung. Fokusnya ada pada cepat-lambatnya tempo dialog para pemeran. Sebenarnya apa yang dilakukan oleh pelatih atau sutradara ini dan apa fungsinya?

baca juga : Teater Antara Istilah dan Pengalaman (5)

Pelatih atau sutradara tersebut sedang memberika penanda dinamika kepada para pemeran ketika berdialog. Dinamika di dalam musik berhubungan erat dengan volume suara dan perasaan yang terkandung dalam komposisi. Keras-lembutnya suara yang keluar dari instrumen membawa perasaan tersendiri. Di dalam fisika, dinamika merupakan perubahan gerak yang terjadi karena penyebabnya mengalami perubahan. Lambat-cepatnya sebuah gerak dengan demikian tergantung dari penyebabnya. Sementara dalam berbicara, dinamika sangat dipengaruhi oleh suara yang dihasilkan pembicara. Suara ini berkaitan dengan perasaan, kehendak, semangat atau kepercayaan ini. Oleh karena itu, keras-lirihnya suara serta cepat-lambatnya kalimat dialog diucapkan mempengaruhi emosi atau mood adegan. Jadi, tepukan-tepukan yang dilakukan oleh pelatih atau sutradara tersebut dimaksudkan agar pemeran mampu membangun dinamika bicara dalam adegan yang dilakoni.

Karena dinamika bicara berkaitan dengan perasaan (ekspresi artistik), maka hal ini sangat perlu diperhatikan. Namun apakah model pelatihan dengan memberikan tanda dinamika melalui tepukan/ketukan ini benar-benar membantu? Di dalam konsep teater sutradara di mana interpretasi tunggal dari lakon adalah interpretasi sutradara model ini bisa diterapkan. Sementara itu, di dalam konsep teater aktor, model pelatihan semacam ini jelas sama sekali tidak tepat. Aktor di dalam teater aktor mesti menginterpretasi dialog secara mandiri dan memainkan dinamika bicara dalam konteks aksi-reaksi dengan lawan main sesuai mood adegan. Dengan kondisi semacam ini, penanda dinamika melalui tepukan ketika diikuti justru akan menghilangkan emosi yang semestinya dibangun antarpemeran. Dinamika bicara ditentukan tidak melalui ketepatan cepat-lambatnya dialog melainkan kewajaran dialog yang terjadi.

Meskipun di dalam teater sutradara model ini bisa dilakukan, namun caranya perlu diperhatikan. Memberikan tanda secara terus-menerus seperti yang seringkali terjadi justru kurang memberikan kejelasan maksud bagi pemeran. Seorang pemeran yang ketika berbicara mesti fokus pada kalimat dialog dan aksi balikan pemeran lain akan terbagi konsentrasinya ketika harus terus mendengar tanda tepukan tangan ini. Kalaupun pemeran mampu membagi konsentrasinya maka ekspresi bicaranya akan mengikuti ritme dan tempo tepukan. Kondisi ini justru menjauh dari makna dinamika di mana ekspresi bicara mesti memperlihatkan (mengungkapkan) perasaan yang terkandung dalam kalimat dialog. Artinya, dialog yang terlalu mengikuti irama tepukan itu menjadi kurang mengindahkan perasaan sehingga tolok ukurnya kemudian adalah (hanya) ketepatan cepat-lambatnya dialog.

Interpretasi atas perasaan atau emosi setiap dialog peran yang dilakukan sutradara memang dapat dipastikan dengan model pelatihan semaca ini namun jenis atau sifat teaternya mesti dipertimbangkan. Model hitung-hitungan dalam berbicara terkait nada, keras-lirihnya suara serta penekanan-penekanan tertentu tidak bisa dilakukan dalam semua jenis teater. Umumnya, gaya bicara pemeran yang sangat teratur dengan pola tertentu hanya terdapat dalam teater klasik atau teater konvensional. Di dalam teater ini pun perlu dilihat kovensi atau aturan yang melingkupinya. Gaya bicara berpola biasanya terjadi karena kalimat dialog puitik atau bahkan berbentuk pantun, manner yang tidak boleh ditinggalkan dalam berbicara seperti yang terjadi di lingkup keraton atau adat tertentu, serta aturan-aturan lain yang ada dalam mempersembahkan pertunjukan teater. Dalam konteks ini, bahkan tidak hanya dialog saja yang perlu dihitung sedemikan rupa namun juga gerak-gerik dan ekspresi muka. Memang di dalam teater konvensional keindahan yang disajikan memiliki ukuran tertentu yang telah menjadi patokan. Keindahan ini jelas saja buatan namun telah disepakati. Pada teater seperti inilah model pelatihan dengan penanda dinamika dapat dilakukan.

=== bersambung ===

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.