Eduteater

Teater Antara Istilah dan Pengalaman (7)

Oleh: Eko Santosa

7. Blocking

Blocking merupakan istilah yang sangat diakrabi dalam proses latihan teater. Meski demikian di dalam pengalaman-pengalaman teater, istilah ini dimaknai secara berbeda. Beberapa orang menganggap bahwa blocking merupakan sebuah posisi di mana pemeran satu menutupi pemeran lain sehingga tidak bisa terlihat oleh penonton. Oleh karena itu pula blocking ini sangat dilarang. Jadi dalam pengalaman teater semacam ini wajar jika terdengar seorang pelatih atau sutradara berteriak dari sisi panggung, “Kamu, geser sedikit ke kiri karena blocking!” atau, “Jangan seperti itu posisinya, nanti blocking!”. Mungkin para pelaku teater akademis akan menertawakan hal ini dan menganggapnya sebagai satu kesalahan besar, namun pengalaman teater tidak hanya berlangsung di dalam ruang-ruang akademik. Terminologi teater yang sebagian bersar diambil dari khasanah budaya Barat itu disikapi secara berbeda di luar ruang akademik. Penggunaan “blocking” dalam hal ini kemungkinan besar mengacu pada arti harfiah kata “block”. Jadi meskipun “blocking” merupakan terminologi teater namun pemaknaannya tidak diacu dari teater. Hal ini bisa saja terjadi karena kurang memadainya informasi mengenai teater yang ada di masyarakat. Secara harfiah, kata “block” dalam bahasa Inggris dapat diartikan sebagai rintangan atau halangan dan frasa bentukan dari “block” ini seperti, “blockage”, “to block off” atau “to block up”  juga memaknakan tentang penghalangan atau penutupan.

baca juga : Teater Antara Istilah Dan Pengalaman (6)

Pencarian makna di luar teater bagi terminologi teater ini ternyata juga dialami atau terjadi di dalam ruang kelas (akademik) yang juga melahirkan pemaknaan berbeda sekaligus menggelikan. Pemaknaan semacam ini karena memang kamus terminologi teater tidak banyak tersedia sehingga kamus bahasa menjadi andalan. Sementara tidak semua kata dalam terminologi tertentu tersedia di dalam kamus bahasa yang ada di pasaran. Pemaknaan yang berbeda ini mencoba menegaskan bahwa “blocking” itu merupakan sesuatu yang diam karena yang bergerak disebut sebagai “moving”. Perlu diketahui bahwa “moving” juga merupakan terminologi teater khususnya dalam hal pemeranan. Pembedaan makna antara “blocking” dan “moving” ini jelas tidak mengacu pada terminologi teater melainkan arti harfiah semata. Menurut pemaknaan ini, latihan “blocking” hanyalah latihan posisi dan komposisi pemain di atas panggung dalam keadaan diam tanpa gerak. Gambarannya dapat dijelaskan sebagai berikut, setelah para pemeran memahami “blocking” yang ditetapkan barulah kemudian melakukan “moving” untuk membentuk “blocking” berikutnya yang telah ditetapkan pula. Benar-benar sesuatu yang aneh, menggelikan tapi pernah terjadi.

Secara historis, blocking merupakan terminologi pengaturan pemain di mana semua hal terkait dengan posisi dan gerak pemeran diatur. John Caird (2010) menjelaskan bahwa semua hal terkait dengan pengaturan pergerakan dan perpindahan pemeran di atas panggung disebut sebagai blocking. Jadi, blocking (kata kerja dan keta benda) merupakan teknik dalam penyutradaraan yang berisi instruksi-instruksi kepada seluruh pemeran di mana mereka harus berdiri, duduk, dan bergerak. Rangkaian instruksi ini kemudian diwujudkan dalam gambar rancangan yang mesti dipatuhi. Penggunaan blocking semacam ini biasanya karena waktu latihan pemeran terbatas sementara elemen pementasan lainnya perlu waktu tersendiri untuk penyesuaian sehingga semuanya harus diatur oleh sutradara. Dengan kondisi demikian, pemeran harus mematuhi rancangan blocking ini karena tata panggung dan cahaya juga bekerja berdasar rancangan ini. Jika pemeran tidak mematuhi atau meleset dari rancangan bisa jadi ia tidak akan mendapatkan pencahayaan yang tepat. Jika ini yang terjadi, maka pemeran tersebut dapat dikatakan merusak konsep pementasan. Bahkan, di dalam satu produksi tertentu pemeran yang berlaku seperti ini akan dicoret atau tidak digunakan lagi. Karena begitu pentingnya rancangan blocking, maka setiap pemeran harus memahami dan mematuhi rancangan yang diperuntukkan baginya.

Mengingat begitu pentingnya penataan dan pengaturan pemeran di atas pentas apakah kemudian teknik penyutradaraan dengan menerapkan rancangan blocking ini menjadi penting? Ternyata tidak. Blocking atau teknik penataan dan pengaturan pemeran melalui rancangan blocking menjadi penting dilakukan dalam konteks pembelajaran atau produksi yang memiliki waktu proses minim. Di dalam kelas teater, baik pemeranan atau penyutradaraan, blocking memang perlu dipelajari terutama kaitannya dengan komposisi, pola hadap, dan arah gerak pemeran yang terencana. Apalagi ketika kelas sudah mulai berjalan dan memerlukan dukungan tata artistik yang mana posisi pemeran menjadi sangat penting. Pembelajaran blocking sangat penting digunakan untuk membangun pemahaman pada diri pemeran dan sutradara bahwa semua komponen yang ada di atas panggung saling terkait antara satu dengan yang lainnya sehingga semuanya perlu direncanakan.

Namun demikian, banyak pekerja teater mulai meninggalkan terminologi blocking ini, bahkan sebagian di antaranya melarang. Mengapa demikian? Hal ini terjadi karena sifat blocking terlalu kaku sehingga membuat semuanya terlihat mekanik. Ketepatan posisi, arah gerak, tujuan pergerakan pemeran yang mesti diikuti karena mempertimbangkan faktor tata artistik justru akan melemahkan pemeranan itu sendiri. Atas pertimbangan ini, para pelaku teater mengajukan terminologi “staging” atau pemanggungan sebagai pengganti blocking. Pemanggungan lebih mengedepankan konsep tampilan secara menyeluruh sehingga semua komponen saling menyesuaikan dan melengkapi. Blocking bagi pelaku teater modern justru menghasilkan sesuatu yang anti-teater, semua serba matematis, kaku, dan mati. Sementara, akting adalah sesuatu yang hidup dan seringkali tak terduga dan untuk saat ini, pemeran yang berdiri di area tanpa cahaya sudah dapat diatasi dengan lampu otomatis yang dapat diatur dengan menggunakan komputer. Jadi, pemeran tidak perlu khawatir bahwa gerakan atau langkah yang ia buat tidak disorot cahaya. Pun begitu, dalam pelajaran tata cahaya juga telah dikonsepkan bahwa semua ruang yang ada di atas panggung mesti tersinari sehingga akting pemeran dapat tumbuh sebagaimana mestinya. Tidak lagi perlu diatur-atur secara kaku yang pada akhirnya justru akan mematikan peran itu sendiri.

=== bersambung ===

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.