Eduteater

Teater Antara Istilah dan Pengalaman (8)

Oleh: Eko Santosa

8. Cut to Cut

Seorang sutradara menyaksikan sebuah adegan yang sedang dilatihkan. Kemudian, karena sesuatu hal, ia berteriak, “Cut!”. Semua pemeran yang ada dalam adegan berhenti. Sutradara kemudian memberikan komentar, arahan atau saran perbaikan. Adegan kemudian dilakukan ulang atau diteruskan mulai dari bagian yang dibenahi. Jika kemudian terjadi kekeliruan, sutradara akan kembali berteriak, “Cut!”, dan proses pembenahan akan kembali dilakukan. Demikian proses latihan adegan tersebut dilakukan sampai waktu latihan selesai. Umum menyebut proses atau model latihan ini sebagai “cut to cut”. Pelaku teater secara umum juga menyepakati dan memahami model latihan semacam ini dan penyebutan, “cut to cut”, telah diterima apa adanya.

baca juga : Teater Antara Istilah dan Pengalaman (7)

Istilah, “cut to cut” sebenarnya lebih dekat pada film daripada teater. Penggunaan frasa “cut to” banyak ditemui di dalam skenario film dan bukan pada naskah lakon panggung. “Cut to” atau “cut” menandakan bahwa adegan tersebut dipotong/dihentikan untuk bertransisi atau menuju ke adegan lain yang tidak harus dalam satu kesatuan ruang dan waktu. Hal ini sangat mungkin di dalam film karena proses pengambilan gambar tidak harus berlangsung dari awal sampai akhir cerita secara running. Proses pengambilan gambar dapat dipotong adegan per adegan. Dengan demikian “cut” atau “cut to” di dalam skenario dapat dijadikan sebagai panduan pembuatan breakdown pengambilan gambar. Panduan ini pun secara lebih seksama diterapkan pada saat penyuntingan gambar (pasca produksi). Istilah “cut” yang dimaknakan sebagai transisi dari adegan satu ke adegan lain ini kemudian secara teknis dan artistik diwujudkan dengan memotong dan menyambung rangkaian gambar.

Tidak menjadi masalah sebenarnya ketika istilah ini diterapkan di dalam proses lathan teater, apalagi ketika semua elemen yang terlibat memahaminya. Namun demikian, “cut to cut” di dalam latihan teater jelas tidak sama dengan “cut to cut” di dalam pengambilan gambar dan proses penyuntingan film. Seperti tersebut di atas, sutradara mengucapkan, “cut” bukan dalam rangka menghentikan satu adegan untuk kemudian melanjutkan latihan ke adegan lain. “Cut” di sini lebih dimaknai sebagai perintah untuk berhenti. Sangat sederhana. Sutradara perlu memberikan arahan atas adegan yang berlangsung dan itu tidak mungkin dilakukan ketika adegan terus dilangsungkan, maka perlu dihentikan. Proses atau model latihan semacam ini memerlukan kesabaran dan sekaligus ketelitian. Hal-hal yang diamati dalam adegan bisa saja sangat detail tidak hanya menyangkut wicara atau dialog melainkan gerak-gerik dan perpindahan tempat pemeran atau proses aksi-reaksi. Jadi, pemeran akan mempersiapkan dirinya dengan baik dan was-was ketika produksi menyatakan bahwa latihan yang akan dilakukan adalah “cut to cut”.

Sebenarnya ada istilah yang dapat digunakan untuk model latihan seperti ini yaitu “stop and go”. Model latihan ini diterapkan pada saat latihan teknik di mana unsur tata cahaya, tata suara, videografi atau efek khsusu dilibatkan. Latihan dilakukan secara run kemudian pada titik tertentu sutradara menghentikan adegan untuk memberikan waktu kepada penata cahaya, penata suara, penata video dan efek atau seluruh elemen artistik yang terlibat dalam adegan tersebut bekerja sesuai cue (tanda) yang diberikan. Setelah semua dipahami, latihan kembali dijalankan. Karena kepentingannya untuk penyesuaian dukungan teknik dan artistik, maka adegan dihentikan demi memberikan kejelasan tanda teknik dan artistik di dalam adegan tersebut. Nah, model “stop and go” ini bisa diterapkan dalam latihan adegan di mana pembenahan atau penyesuaian dilakukan tidak dalam konteks teknik melainkan pemeranan.

Proses latihan dengan model semacam ini memang melelahkan namun bagi teater sutradara merupakan hal yang penting terutama menyangkut teknik pemeranan. Pengarahan dengan menghentikan adegan sebenarnya memutus emosi pemeran namun karena kepentingan artistik (pose, posisi, komposisi, arah hadap, aksi-reaksi) dianggap penting, maka emosi sedikit dikesampingkan. Oleh karena itu, model latihan seperti ini lebih tepat dipergunakan pada saat pemeran mulai lepas naskah dan bukan pada latihan running secara keseluruhan. Sebab jika dilakukan sepanjang jalannya cerita, pasti akan sangat menghabiskan energi. Kepentingan pengarahan teknik pemeranan dan artistik pengadeganan semacam ini dapat dilakukan secara bertahap hingga semua pemeran memahami apa yang diinginkan oleh sutradara dalam setiap adegan. Tujuan pengarahan teknik pemeranan dan artistik adegan ini pun mesti dipahami sepenuhnya oleh pemeran sehingga ketika melakukan tahap latihan ini ia tidak melibatkan emosi. Akan sangat tidak mengenakkan kiranya ketika seorang pemeran tengah intens berperan tiba-tiba terdengar suara “Cut!!” atau “Stop!!”. Bisa jadi intensitas artistik dalam bermain peran yang ia bangun redup dan sulit untuk kembali dibangkitkan.

==== bersambung ====

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.