Teater Berjarak

Oleh: Eko Santosa

Pandemi Covid-19 dewasa ini membuat kehidupan seni berubah total. Keharusan menjaga jarak antara individu satu dengan yang lain serta prasyarat kesehatan yang ketat menjadikan seni tidak leluasa bergerak. Pada awal pandemi terjadi, hampir semua kegiatan yang melibatkan orang banyak dilarang. Semua orang disarankan untuk diam di rumah serta bekerja dari rumah. Seminggu pertama mungkin tidak begitu terasa, namun lama-lama kehidupan menjadi benar-benar lumpuh. Apalagi kapan berakhirnya pandemi belum bisa dipastikan. Para pekerja seni mulai mencari alternatif untuk tetap bertahan dalam berkarya demi menopang kehidupannya. Akan tetapi, hal ini tentu saja tidaklah mudah. Seni teater yang semestinya dijalankan secara langsung, di mana penonton hadir dan menyaksikannya di dalam gedung pertunjukan tidak bisa lagi dilaksanakan. Selain itu, seniman seni teater juga tidak mungkin untuk menyelenggarakan latihan di mana kedekatan jarak antarindividu diperlukan. Oleh karena itulah jalan lain mesti diambil.

Internet menjadi salah satu andalan untuk memecahkan persoalan. Banyaknya aplikasi atau media sosial yang dapat dimanfaatkan baik secara gratis maupun berbayar membuat aktivitas seni berbasis jaringan mulai diupayakan. Para pelaku teater mulai berlomba-lomba membuat diskusi, seminar, obrolan, pentas bersama dari rumah masing-masing dan lain sebagainya. Tetiba semua menjadi aktivis dunia maya. Semuanya kemudian belajar mengenal, memperdalam, dan memanfaatkan teknologi yang dapat digunakan untuk mendukung media berbasis internet yang digunakan.

Untuk acara bersifat bincang-bincang, para pelaku teater mulai memanfaatkan aplikasi konferensi atau pertemuan video. Ada yang suntuk dengan Zoom, Webex, Google Meet, atau Umetmee. Mulai dari yang biasa-biasa saja, gratisan dan berjalan apa adanya sampai ke yang canggih. Mulai dari pengambilan gambar yang seadanya sampai pada yang membutuhkan latar belakang gambar atau animasi tertentu. Intinya, semuanya berusaha untuk tak mau lagi tutup mata pada teknologi. Semua seolah dipaksa untuk menggunakan teknologi berbasis internet. Ketika aplikasi konferensi video dapat diadopsi oleh media sosial, maka para pelaku teater pun sigap dan segera memanfaatkannya. Mereka mulai membuat acara bincang-bincang hidup melalui akunnya masing-masing. Ada yang menggunakan Instagram, WA group, Line atau FB Messenger. Seolah gayung selalu bersambut, kesigapan pengembangan aplikasi langsung ditangkap oleh para penggunanya.

Aktivitas teater di dunia maya juga tidak kemudian sekedar bersifat obrolan. Pementasan dalam jaringan mulai pula dikerjakan. Ada yang bentuknya dramatic reading, monolog, pantomim, sampai ke pementasan kolaboratif dan lintas bidang. Bahkan ada yang mulai membuat format pementasan sebagaimana halnya sinetron berseri. Waktu tayangnyapun ada yang live langsung, live record maupun setelah melalui proses editing yang njlimet terlebih dulu. Semua dilakukan oleh para pelaku teater demi untuk terus berkarya di tengah pandemi yang melanda.

Teater yang mestinya dilakukan dengan segala kedekatan tetap bisa dijalankan meskipun berjarak. Memang karya seni tidak akan pernah bisa dipadamkan, namun persoalan di sekitarnya tetap saja perlu dipikirkan. Semua produksi aktivitas teater online yang dikerjakan oleh para pelaku teater, secara manajemen masih belum bisa setara dengan produksi offline. Soal bagaimana mencari viewer yang mau membayar ataupun meningkatkan kuantitas viewer agar iklan bisa masuk dan upah tayang iklan meningkat masih menghantui dan belum bisa dipecahkan banyak orang apalagi dalam waktu singkat. Selain itu penikmatan seni berjarak, tak dengan mata langsung, tak digedung pertunjukan dengan segala sihir artistiknya menjadi kendala paling esensial. Memang aktivitas teater dapat dilakukan secara berjarak namun masih perlu banyak dipikirkan format dan estetika yang tepat.

Dengan segala upaya dan kerja keras, tentunya hal itu bisa diwujudkan asalkan tidak berhenti di tengah jalan dan hanya sekedar mengharap pandemi berakhir. Kegiatan dan kehidupan berjarak bisa saja menjadi budaya baru. Meskipun masih merupakan tanda tanya besar, namun masa berlangsungnya pandemi Covid-19 dapat dijadikan semacam uji coba berlakunya budaya berjarak di mana peranan teknologi untuk mendekatkan antarindividu secara masa sangat krusial. Perubahan pasti akan terjadi, bahkan ketika pandemi berakhir dan para pelaku teater mesti mampu dan mau menerima perubahan tersebut sehingga aktivitas dan produksi karya teater senantiasa tumbuh dan selalu berada di tengah kehidupan. (**090820**)

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: