Eduteater

Teater dan Pertunjukan (2)

Oleh: Eko Santosa

Seniman Teater

Seniman teater, seiring dengan teater sebagai karya seni juga memiliki tempat dan penilaian tersendiri di dalam masyarakat. Keistimewaan tempat ini diberikan karena untuk menciptakan karya seni dibutuhkan keahlian khusus. Tidak ada yang salah dengan pendapat ini, namun pendapat ini pun juga tidak sulit untuk disalahgunakan. Orang yang secara profesional bekerja menciptakan karya teater memang layak disebut sebagai seniman teater. Seniman memiliki nilai yang melekat dengan karya seninya di mana jelas bukan harga materi yang menjadi tujuan, melainkan kepuasan estetik. Benarkah demikian?

baca juga : Teater dan Pertunjukan (1)

Di dalam sejarah perkembangan teater menyangkut para kreatornya, sang seniman, hal mengenai kepuasan estetik itu ada benarnya. Artinya, ada seniman teater yang tidak meletakkan produksi atau popularitas sebagai acuan atau dasar untuk berkarya. Ia berkarya memang karena tuntutan jiwanya, merefleksikan peristiwa dan nilai yang terjadi dalam kehidupan serta pandangan pribadinya atas kenyataan ke atas pentas. Sebagai seniman teater, ia memenuhi tanggung jawabnya untuk menyuarakan pikiran dan perasaannya secara artistik melalui sebuah karya. Bagaimana kemudian karya tersebut ditanggapi (kontekstualitas) atau memliki fungsi lain selain seni sudah bukan lagi menjadi urusannya. Seniman semacam ini persis seperti Oscar Wilde yang mendapat julukan Aesthete karena baginya seni hanya bisa dinilai dalam konteks kesenian bukan yang lainnya.

Perjalanan sejarah seniman teater yang memuja jiwa inilah yang membuat seniman seni teater semakin teguh keberadaan khususnya (istimewa) di masyarakat. Tugas dan kewajiban yang mesti ia jalankan seolah-olah sangat tertentu sehingga memang benar-benartidak sembarang orang bisa melakukannya. Belum lagi ketika dikaitkan dengan thesis Aristoteles mengenai fiksi dan mode persuasi yang mesti dimiliki seniman untuk meyakinkan orang tentang apa yang dilihat dan didengar sehingga akhirnya bisa menyerap makna tontonan lalu timbul kesadarannya. Seniman seni teater dalam posisi ini memang menjadi sangat istimewa. Segala apa yang ia sajikan meskipun itu dalam kenyataan disebut sebagai sesuatu yang bernilai jelek, namun dalam tampilan karya seni justru dapat digunakan untuk menyingkapkan nilai kesadaran tersembunyi. Karena pengaruhnya yang kuat dalam hal menimbulkan kesadaran atas tampilan luar yang terlihat inilah, dunia seniman dianggap sama istimewanya dengan nilai dalam karya seninya. Dalam keseharian, seniman teater bisa saja tampil di luar keumuman dan orang dapat memakluminya karena anggapan bahwa ada nilia tersembunyi yang ingin disampaikan di balik penampilan.

Penerimaan umum ini telah menjadi etika. Seniman seni teater telah memperoleh dan boleh melakoni dunianya dalam keseharian. Namun dalam kenyataan, hal-hal istimewa ini sering juga disalahgunakan. Salah satunya adalah mudahnya seseorang melabeli dirinya sebagai seniman meskipun baru menampilkan beberapa karyanya di hadapan masyarakat. Label ini pun juga tidak bisa serta-merta dipersalahkan karena memang tidak ada lembaga khusus yang menerbitkan sertifikat seniman dengan segala risiko dan tanggung jawab moralnya. Kesalahan ini semakin menjadi karena keistimewaan yang diberikan masyarakat atas hidup dan diri seniman itu menggiurkan banyak orang. Label seniman kemudian muncul di mana-mana, bahkan di kalangan mahasiswa seni yang notabene masih belajar namun terkadung menganggap dirinya seniman. Tidak luput juga label ini melekat atau sengaja dilekatkan dalam diri guru seni meskipun tugas dan tanggung jawab guru sama sekali berbeda dengan seniman. Mereka, para pemakai label ini, ingin diperlakukan bagai seniman di tengah masyarakat meskipun belum satu pun karya seni yang ia tampilkan mampu membangkitkan kesadaran baru bagi masyarakat.

Akibat-akibat dari kesalahan semacam ini, penilaian atas seniman tidak selamanya tetap. Jika memang apa yang dikerjakan adalah menciptakan karya seni yang baik dalam konteks mampu membangkit kesadaran masyarakat dan kontinyu, maka keistimewaan itu bisa diperoleh. Sebaliknya jika lebel itu terlalu membebani dirinya sehingga membuat apa yang dilakukan dalam keseharian tidak sebanding dengan karya yang dihasilkan, maka keistimewaan itu pun dapat dicabut. Kondisi ini sedikit banyaknya melahirkan apa yang disebut dengan seniman sungguh-sungguh dan sok seniman di mata umum.

Perkembangan seni yang selalu beriringan dengan kehidupan masyarakat pada akhirnya juga memiliki penilaian yang lebih detail atas kesenimanan seseorang. Penilaian ini biasanya dikaitkan dengan karya yang dihasilkan dan kuatnya pengaruh karya-karya tersebut, tingkat keterkenalan dalam skala gelar karya, kesungguhan berkarya dalam keseharian, serta tujuan utama dalam menggelar karya. Penilaian ini bisa jadi berbeda-beda di antara masyarakat satu dengan yang lain termasuk di dalamnya bentuk keistimewaan yang diberikan. Dalam kondisi semacam ini, penilaian atas seniman seni teater tidak bisa lagi tunggal berdasar hanya karya seni sebagai pemuas jiwa semata. Dalam kondisi semacam ini, seniman seni teater mendapatkan tantangan yang sesungguhnya untuk meneguhkan diri sebagai seniman teater atau sok seniman teater atau label lainnya.

 ===bersambung===

One thought on “Teater dan Pertunjukan (2)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.