Eduteater

Teater dan Pertunjukan (3)

Oleh: Eko Santosa

Teater dan Media

Pertunjukan teater dalam cara pandang seni merupakan perwujudan ekspresi artistik yang memuat nilai tertentu dan disampaikan ke hadapan penonton. Nilai ini bisa saja berkait dengan kehidupan secara umum, pandangan atau pendapat seniman akan kehidupan dan problematikanya, ekspresi imajinatif atau problem pribadi seniman dalam memandang kehidupan. Penyampaian nilai itu dilakukan, sekali lagi, sesuai kaidah teater sebagai karya seni. Namun apakah, karya teater hanya bisa dipesembahkan dalam konteks karya seni saja? Tentu saja tidak. Pertunjukan teater dapat dicipta dengan maksud atau tujuan tertentu yang gamblang atau dinyatakan dalam proses presentasinya. Tujuan ini tentu saja bukan artistik melainkan pengutamaan penyampaian pesan atau persoalan nyata yang ada dalam kehidupan. Secara sederhana, pertunjukan teater ditampilkan sebagai media atau peraga untuk mencapai tujuan tertentu. 

Keluwesan teater dalam menyerap beragam unsur seni ke dalam pertunjukan memudahkan seseorang atau lembaga tertentu untuk menyampaikan sesuatu melalui teater. Sesuatu yang ingin disuarakan dengan media teater umumnya bersangkutan langsung dengan persoalan dalam kehidupan nyata. Seperti misalnya pemerintah menggunakan teater sebagai media sosialisasi program atau himbauan-himbauan tertentu. Teater semacam ini banyak dijumpai. Yang menjadi persoalan adalah, apakah produk teater semacam ini masih dapat dikategorikan sebagai karya seni yang bersandar pada estetika? Mungkin saja masih bisa dikatakan sebagai karya seni karena memang teater itu sendiri adalah seni. Namun demikian, jika disangkutkan dengan nilai artistik bisa saja tetap bernilai namun tak cukup. Mungkin karena itu pulalah ada istilah seni tinggi dan seni rendah.

baca juga : Teater dan Pertunjukan (2)

Penyebutan seni rendah tentu saja kurang mengenakkan, seolah apa yang ditampilkan jauh dari kualitas. Padahal bisa jadi, informasi, himbauan atau sosialisasi itu dapat berhasil ketika disampaikan melalui teater. Artinya, khalayak yang datang menyaksikan mendapatkan kesadaran atau pencerahan terkait apa yang disampaikan. Bahkan mungkin pula justru verbalitas semacam itu yang diperlukan masyarakat sehingga mudah mencerna apa yang sedang terjadi dan mesti dilakoni. Pertunjukan teater yang tampil dengan segenap kualitas artistik, mungkin justru terlalu berat (sulit untuk dicerna pesan yang akan disampaikan) dan tidak memiliki efek langsung bagi dan dalam kehidupan masyarakat. Dari sudut pandang ini, keberadaan teater sebagai media yang disebut sebagai seni rendah tersebut sebenarnya sangat diperlukan dalam situasi dan kondisi tertentu.

Titik temu antara kebutuhan (akan kesadaran) bagi dan dalam masyarakat dengan teater membentuk apa yang kemudian disebut sebagai teater terapan. Penyebutan ini lebih mudah diterima dan tidak terkesan meremehkan dibanding seni rendah. Teater terapan yang menggunakan teater sebagai media dalam perjalanannya dapat bersandingan dengan teater murni yang menyajikan teater sebagai karya seni.

Seperti halnya karya seni, jenis dan model teater terapan pun mengalami perkembangan. Karena berbasis pada persoalan nyata yang dihadapi masyarakat dalam kehidupan, maka variasi model juga sangat tergantung dari persoalan yang ada dan sudut pandang pemecahan masalah. Teater pemerintah mungkin mengambil bentuk teater konvensional tertentu dan menyisipkan pesan atau himbauan dalam salah satu adegan atau memodifikasi cerita yang ada. Sementara lembaga lain yang concern dalam persoalan sosial lain memiliki model sendiri yang sama sekali berbeda dengan teater yang ada.

Ada teater terapan yang fokus pada soal-soal pendidikan di sekolah sehingga mereka meramu aktivitas teater di dalam kelas berdasarkan kurikulum yang berlaku. Ada pula yang fokus pada persoalan kesadaran berpolitik warga negara sehingga pergelarannya diadakan di tengah masyarakat dengan topik-topik mengenai hukum, norma, hak dan kewajiban warga negara serta silang-sengkarut pelaksanaannya dalam bernegara. Ada juga yang serius pada persoalan-persoalan pribadi sehingga penyelenggaraan teaternya di tempat khusus dengan penonton terbatas. Masih banyak lagi bidang dan persoalan lain dalam kehidupan yang dapat didekati (dianalisis) secara langsung melalui dan dengan teater.

Penguraian atau bahkan alternatif pemecahan masalah yang terjadi di dalam kehidupan dapat dijumpai di dalam teater terapan. Teater berhadapan langsung dengan masyarakat dengan panggung dan ceritanya adalah kehidupan nyata itu sendiri. Orang-orang yang terlibat dengan demikian tidak harus menjabarkan kode-kode artistik untuk memahami pesan. Mereka adalah pesan itu sendiri, adalah persoalan itu sendiri yang perlu dipahami dan diselesaikan. Teater terapan, dalam proses kolaboratif/interaktif antara pemain dan penonton, dapat dengan langsung melontarkan dan menawarkan solusi-solusi nyata bagi perjalanan kehidupan saat ini ketimbang teater murni. Teater terapan hadir untuk mendekatkan jarak yang sengaja dijaga jauh oleh teater murni. Sebuah proses pendekatan yang seringkali diperlukan sehingga mampu membuat yang diam bersuara, langsung tanpa perlu diwakili.

=== bersambung ===

One thought on “Teater dan Pertunjukan (3)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.