Eduteater

Teater dan Pertunjukan (4)

Oleh: Eko Santosa

Pekerja Teater

Eksistensi pertunjukan atau presentasi teater sebagai karya seni terapan berdampak pada pekaryanya. Jika pertunjukan teater disajikan sebagai karya seni dan oleh karena itu pekaryanya disebut seniman, lalu apakah pekarya seni teater terapan juga seorang seniman? Perihal penyebutan yang terlihat sederhana namun memiliki efek sosial pada para penyandangnya. Di dalam cabang seni lain misalnya seni rupa tiga dimensi label seniman dan pengrajin sangatlah berbeda. Yang satu adalah berkarya untuk seni dan yang satunya seolah bekarya untuk industri. Yang satu menghasilkan karya khusus dan tidak dalam jumlah banyak sementara yang satu justru memproduksi karya untuk diduplikasi. Dari kondisi ini, jelas sekali model atau pola kerjanya berbeda termasuk pelibatan orang-orang sekitar yang tentu juga berbeda. Di dalam dunia tetaer, efek ini mungkin tidak terlalu berpengaruh di kalangan masyarakat awam karena sebutan umumnya tentu saja “seniman”. Namun dua orang “seniman” ini memiliki psikologi kerja yang sangat berbeda sehingga di dalam komunitas teater, keberbedaan ini perlu dijelaskan.

Pelaku teater terapan bekerja langsung di tengah masyarakat karena memang tujuannya untuk menyadarkan masyarakat. Oleh karena itu, model atau formulasi kerjanya berbeda. Mereka tidak memerlukan panggung khusus untuk pentas. Pun tidak pula dengan penonton yang khusus datang untuk menyaksikan pertunjukan. Selama proses, mereka juga tidak memerlukan tempat khusus karena memang masyarakat adalah area kerjanya. Artinya, pelaku teater terapan bekerja secara dan di dalam komunitas. Mereka bergerak bersama-sama masyarakat dalam bentuk organisasi. Ketiadaan jarak sejak proses awal hingga peristiwa teater itu digelar menjadi pembeda antara mereka dengan seniman teater. Pada tataran ini, tentu saja sebutan seniman menjadi kurang tepat atau justru tidak mengenakkan bagi pelaku teater terapan sendiri. Karena, bukan keahlian berteater yang mereka tunjukkan melainkan bagaimana peristiwa teater itu membentuk kesadaran bersama mengenai persoalan nyata yang sedang dihadapi. 

baca juga : Teater dan Pertunjukan (3)

Dilihat dari sisi lain, misalnya ekonomi, dalam konteks mendapatkan upah pun berbeda. Seniman seni teater mendapatkan upah dengan cara menghasilkan karya teater (penyutradaraan, pemeranan, serta elemen artistik dan produksi lainnya). Mereka bekerja secara khusus sesuai bidang-bidang yang ada dalam produksi pementasan. Di sini, pementasan seolah menjadi tujuan akhir dari sebuah produksi. Jika karya tersebut akan diproduksi ulang tentu ada perhitungan-perhitungan tersendiri. Lain halnya dengan teater terapan yang bekerja berdasarkan program. Presentasi teater bukanlah tujuan utama. Teater merupakan media terintegrasi dalam upaya-upaya pemberdayaan (penumbuhkembangan kesadaran) masyarakat. Peristiwa teater yang dihasilkan tidak perlu dikelola oleh tim produksi profesional yang sengaja dibentuk. Intinya, pementasan teater bukanlah gelar karya. Elemen artistik menjadi kendaraan untuk membangkitkan kesadaran bagi semua yang terlibat di dalamnya. Peristiwa teater bisa saja digelar berulang-ulang di tengah masyarakat yang sama dengan model pertunjukan yang sama namun problematika berbeda.

Melihat kondisi kerja yang sangat berbeda terutama keterlibatan dan pelibatan masyarakat di dalamnya, otomatis sebutan seniman tidak bisa serta merta diberikan. Masyarakat tidak hanya hadir sebagai penonton namun bersama-sama membentuk peristiwa teater sehingga mereka dengan sendirinya juga menjadi pelaku teater itu. Pada tataran ini, sebutan tidak lagi menjadi penting karena semuanya (penyebut dan orang yang disebut) berada di dalam area yang sama. Hal dasar yang membedakan adalah pekerjaan sebelum dan selepas peristiwa teater tersebut terselenggara. Masyarakat akan kembali ke profesi awal mereka dan para pelaku teater terapan kembali bekerja untuk menganalisis dan merencanakan program berikutnya. Menilik kondisi ini, para pelaku teater terapan merupakan orang-orang yang bekerja dengan teater jadi lebih proporsional ketika disebut sebagai “pekerja teater”. Bahkan sebutan ini pun juga cukup proporsional digunakan bagi para “seniman” seni teater karena esensinya adalah berkarya atau bekerja dalam bidang seni teater.

===bersambung===

One thought on “Teater dan Pertunjukan (4)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.