Eduteater

Teater dan Pertunjukan (5)

Oleh: Eko Santosa

Pertunjukan Teatrikal

Pertunjukan teater dalam kurun waktu tertentu identik dengan pementasan drama bermediakan kata-kata. Namun di dalam perjalanannya, seni teater juga mampu menyajikan pertunjukan dengan penyampaian cerita yang bahkan tanpa kata-kata. Hal ini bisa ditilik dari sejarah dan eksistensi pertunjukan mime. Teater bisa menghadirkan cerita bermakna dalam pesona bisu dan mampu menggugah perhatian penonton. Tidak jarang para penonton mime menebak aktivitas yang sedang dilakukan oleh pemain di atas panggung dalam satu rangkaian cerita. Benar tidaknya tebakan ini menjadi kurang berarti karena pada akhirnya penonton akan mendapatkan gairah. Mereka akan merasa bangga jika tebakannya benar dan akan terus bertanya jika tebakannya keliru. Meskipun esensi menonton pertunjukan mime tentu saja bukan menebak-nebak aktivitas yang ditampilkan, namun perilaku tersebut merupakan akibat logis dari sajian pertunjukan cerita tanpa kata.

baca juga : Teater dan Pertunjukan (4)

Pada titik ini, teater sudah tidak bisa lagi diidentikkan (hanya) dengan drama dalam konteks drama sebagai karya sastra. Meskipun adegan dalam pertunjukan mime bisa saja dramatik namun jelas tidak bisa disebut drama karena absennya dialog (wicara) sebagai elemen dasar karya sastra drama. Pertunjukan teater dalam hal ini telah melangkah jauh dari sekedar menjadi wujud pemanggungan karya sastra. Perjalanan artistik teater bisu seperti mime ini kemudian berkembang menjadi beraneka ragam pertunjukan teater berbasis gerak semisal teater tubuh atau teater tari. Teks yang secara harfiah adalah tulisan hitam di atas putih yang mesti disuarakan menjadi teks visual yang bisa dengan hanya dipertontonkan. Sederhananya pemaknaan pertunjukan teater menjadi lebih dalam dan bermakna. Ia tidak hanya berkutat atau terbelenggu di dalam kerangka artistik drama. Teater telah mendudukkan dirinya sendiri di dalam pertunjukan.

Melalui pemaknaan ini, teater berkembang secara lebih leluasa bahkan hingga menembus ke luar panggung dan gedung pertunjukan. Pertunjukan-pertunjukan teatrikal baru bermunculan dan terus mencoba mencapai dimensi artistik tertentu. Terbukanya ekspresi dengan tidak harus menggunakan wicara atau dialog verbal memungkinkan teater bereksperimen dengan gembira. Jenis dan bentuk-bentuk baru dicobakan bahkan ketika hal tersebut pada sudut pandang klasik tidak bisa disebut teater namun hadir secara teatrikal. Pekerja teater seolah tidak lagi perlu harus perduli dengan konvensi tertentu. Mereka menciptakan ruang kreasi antara yang mana belum atau bahkan tidak mau memiliki alamat jelas. Ruang-ruang ini hidup dan menyajikan peristiwa teatrikal dengan bahasa ungkapnya sendiri yang kadang tidak membutuhkan pemahaman para hadirin. Persis seperti lukisan abstrak yang sama sekali tidak menampilkan objek verbal namun efek dari susunan titik, garis, dan warnanya mampu memberikan arti tersendiri bagi yang melihat.

Pertunjukan teatrikal meruyak ke dalam kehidupan masyarakat secara langsung baik sebagai karya seni terap, eksperimentasi, site specific performance, happening, upacara, festival, pesta atau perayaan-perayaan buatan. Pertunjukan teatrikal di dalam konteks seni murni kerap berada dalam wilayah sumir yang tak bisa dideteksi sebagai cabang seni pertunjukan tertentu. Namun justru di situlah letak keindahannya. Teater dengan demikian memberikan banyak kemungkinan ekspresi bagi para pekarya dan banyak pilihan sajian bagi khalayak. Pemaknaan terhadap keindahan dan pesan yang dibawakan pun menjadi beragam dan bisa jadi sangat personal yang mana merupakan cerminan dari kehidupan. Perkembangan pertunjukan teater dengan keberbagaiannya, bagaimanapun mesti dirayakan, suka atau tidak karena kehidupan pun juga berkembang tidak melulu menurut pada konvensi tertentu.

===bersambung===

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.