Eduteater

Teater dan Pertunjukan (6)

Oleh: Eko Santosa

Kajian Pertunjukan

Perkembangan teater dari berbagai segi berdampak pada wilayah kajian yang bisa dilakukan. Kajian teater dari sisi sejarah, kelompok, tokoh, bentuk dan jenis pementasan hingga manajemen produksi sudah sering dijumpai. Eksistensi seni teater terapan pada akhirnya juga melahirkan bidang kajian baru yang sangat menarik untuk dicermati. Penelitian dan buku tentang ini pun sudah banyak dijumpai sehingga setiap orang bisa mempelajari atau minimal memahami apa itu teater terapan. Terkait dengan pertunjukan, kajian teater juga tidak hanya menyangkut unsur pembentuk, struktur, artistik, konsep, dan hal-hal lain terkait dengan estetika teater sebagai pertunjukan melainkan justru menukik langsung pada pertunjukan itu sendiri. Pertunjukan yang dimaksud tentu saja secara dasar memenuhi kaidah teatrikal meskipun ia bukan merupakan seni teater.

Secara mendasar pertunjukan teater dibentuk dari 4 elemen dasar yaitu; penulis yang menghasilkan cerita, sutradara yang mengarahkan pemain, pemain yang menghadirkan pertunjukan dan penonton yang menyaksikan pertunjukan. Dari keempat elemen dasar tersebut semuanya bisa dirangkap oleh satu orang saja kecuali penonton. Artinya, pertunjukan teater bisa lengkap hanya dengan pemain dan penonton di mana cerita dan pengarahan laku dilakukan sendiri oleh pemain tersebut. Merujuk pada konsep ini, maka sebuah peristiwa yang terjadi dalam kehidupan yang disaksikan oleh orang lain dapat pula dimaknai menjadi sebuah pertunjukan teatrikal dipandang dari kacamata seni murni maupun terapan. Namun tentu saja tidak serta merta sebuah kejadian adalah peristiwa teatrikal melainkan yang memiliki unsur-unsur performatif sehingga menarik minat orang untuk menyaksikan.

baca juga : Teater dan Pertunjukan (5)

Peristiwa orang bertengkar atau berdebat di tengah jalan yang disaksikan orang lain bisa menjadi sebuah peristiwa teatrikal yang ketika dikaji akan sangat menarik. Masing-masing orang yang berdebat melahirkan ekspresi atas emosi dan hal itu performatif. Orang-orang tersebut pasti akan mengucapkan kalimat-kalimat yang diserta tindakan (termasuk ekspresi muka) yang menarik minat orang untuk menyaksikan. Orang yang menyaksikan pun bisa jadi juga ikut terlibat atau hanya sekedar menyaksikan saja. Lalu dari mana cerita didapat? Persis seperti lakon yang dimainkan di panggung teater, cerita berawal sebelum pertengkaran terjadi dan terbina selama pertengkaran. Artinya ada alasan sebelumnya mengapa pertengkaran itu mesti terjadi. Persis seperti karakter dalam lakon, orang-orang yang terlibat dalam pertengkaran itu pasti memiliki motivasi (dorongan) dan mereka secara terberi juga berdimensi (sosial, fiisik, dan kejiwaan). Dalam kerangka konsep seperti ini, tentunya menarik mengkaji peristiwa teatrikal dalam kehidupan ke dalam kajian pertunjukan.

Mungkin perlu ditanyakan atau dipermasalahkan soal akting di mana orang-orang tersebut tidak sedang berakting melainkan berdebat dan bertengkar secara nyata. Dorongan dalam diri mereka untuk tampil sebagai yang benar dan meyakinkan itulah yang pada akhirnya secara tak sadar menuntun mereka berlaku performatif dan pada rangkaian berikutnya, tindakan ini pun akan mempengaruhi wicara (kualitas ucapan). Juga dalam konsep persuasi, mereka memerlukan orang lain (orang yang menyaksikan) untuk mempercayai apa yang mereka ucapkan. Ketika semua orang yang terlibat perdebatan itu tampil saling meyakinkan, maka orang yang menyaksikan mereka pasti akan terpengaruh untuk menentukan siapa benar dan siapa yang salah. Ketika akhirnya perdebatan ini mengarah ke fisik dan terjadilan perkelahian sesungguhnya, orang-orang melerai atau justru berlarian sambil memanggil polisi. Pada saat itu ketika ada orang lain yang menyaksikan dari jauh, maka orang yang taDua kubu yang saling berlawanan akan berusaha tampil performatif dan meyakinkan sehingga hakim akan lebihdinya menyaksikan kemudian ikut berlarian itu menjadi pemain dengan motivasi mencari selamat dan memanggil bantuan. Demikian peristiwa teatrikal semacam ini bisa berlangsung dalam kehidupan dan menarik dikaji dari sisi pertunjukan.

Ketika peristiwa tersebut tidak terselesaikan saat itu dan berlanjut ke dalam gedung pengadilan, maka pertunjukan lain pun siap digelar. Pengadilan seperti umum ketahui memiliki realistas sendiri seperti halnya realitas panggung yang disebut fiksi itu. Di pengadilan, realitas ini disebut fakta persidangan. Segala apa yang terjadi dan tidak bisa dibuktikan di dalam persidangan tidak bisa dianggap sebagai fakta. Maka kemudian berlangsunglah peristiwa teatrikal itu dengan motivasi saling mencari keadilan dengan penentuan siapa benar dan siapa salah. Hal-hal semacam ini tentulah sangat menarik dikaji dan dapat memberikan pandangan lain yang dapat diusung ke dalam artistika pemanggungan sebuah cerita. Keterbukaan wilayah kajian dalam seni pertunjukan yang memasukkan peristiwa teatrikal kehidupan menambah vokabulari artistik pekerja teater yang jika dipelajari dengan baik dapat dijadikan dasat pijakan dalam berkarya. (**)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.