Eduteater

Teater dan Pertunjukan

Oleh: Eko Santosa

Teater pada dasarnya adalah salah satu cabang seni pertunjukan. Bahkan menurut kata asalnya, teater itu sendiri dapat memaknakan sebuah pertunjukan. Syarat umum pertunjukan tentu saja ada yang mempertunjukkan, ada yang menyaksikan, dan ada tempat berlangsungnya aktivitas tersebut. Umum juga memahami bahwa pertunjukan teater selalu bertempat di atas panggung, baik terletak di dalam maupun di luar gedung. Di panggung inilah tampil semua orang yang hendak mempertunjukkan diri. Orang yang datang dengan kehendak untuk menyaksikan pertunjukan kemudian disebut sebagai penonton. Demi tujuan apa pertunjukan itu dilangsungkan? Banyak jawaban dari pertanyaan ini, namun secara umum pula jawabannya adalah untuk menggelar atau menampilkan karya seni. Jadi, teater adalah karya seni yang dipertunjukkan.

Apakah kemudian jika bukan sebuah karya seni tidak bisa disebut sebagai teater dan tidak bisa dipertunjukan? Jika kemudian pertanyaan difokuskan pada pertunjukan, apakah jika sudah terpenuhi syarat adanya penonton dan peristiwa yang ditonton di suatu tempat dalam agenda tertentu tidak bisa disebut pertunjukan? Dan jika pemaknaan teater secara asalnya dapat berarti pertunjukan lalu apakah peristiwa tertentu dalam agenda tertentu, di satu tempat yang dilakukan oleh orang tertentu dan disaksikan orang tertentu tidak bisa disebut sebagai pertunjukan teater? Jawaban-jawaban dari pertanyaan ini tentu saja dapat mengembangkan pemaknaan atas teater itu sendiri. Keberterimaan atas segala jawaban ini menjadikan teater sebagai wadah pikiran terbuka yang sanggup menerima berbagai macam gagasan atas dirinya dan sekaligus menegaskan keberadaan dan kelangsungan hidupnya.

Teater dan Karya Seni

Karya seni telah semenjak lama menempati ruang tersendiri dalam masyarakat. Ia tidak bisa dipersandingkan dengan elemen lain secara begitu saja. Perlu pemahaman dan penyelarasan tersendiri sebelum menempatkan karya seni dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, karya seni memang merupakan sesuatu yang khusus dan diakui. Karena teater juga merupakan karya seni, maka perlakuan khusus ini pun menjadi niscaya. Akibat langsung dari kekhususan ini adalah tidak semua orang mau atau bisa memahami pertunjukan teater.

Sebagai karya seni, teater seolah memerlukan pemahaman tersendiri sebelum penyerapan makna. Oleh karena itu penonton tidak hanya sekedar hadir menyaksikan pertunjukan. Tradisi teater sebagai karya seni ini tetap berdiri kokoh meski banyak karya teater yang bisa disaksikan oleh siapa saja tanpa mengurangi nilai seninya. Kemelekatan karya seni membuat semua orang yang hadir menonton untuk menelisik makna di balik apa yang dilihat. Ketika makna yang dicari adalah hal sama dengan apa yang dilihat, penonton pun tidak lekas menilai karya itu sebagai seni yang kurang baik melainkan mencoba mencari sisi keindahan dari apa yang wantah tesebut. Hal ini menandakan bahwa memang karya seni (apapun) telah benar-benar menempati ruang khusus dalam kehidupan manusia.

Teater sebagai karya seni dengan demikian tidak bisa diciptakan oleh sembarang orang. Karya seni telah lama dipandang memiliki sisi keindahan yang layak untuk dilihat, dicermati, disimak dan diakui. Keindahan itu tidak bisa serta merta mengada begitu saja. Keindahan yang secara umum dilihat sebagai sesuatu yang tak terkirakan harganya. Ia tidak bisa dihargai hanya dengan uang atau materi pengganti lainnya. Keindahan dalam seni seolah hanya melahirkan kepuasan batin atau pencerahan jiwa/pikiran. Dengan segenap pemahaman yang gagah ini, teater sebagai karya seni adalah tak ternilai harganya. Karya seni teater (seolah-olah) hanya bisa diciptakan oleh orang yang mempertaruhkan seluruh hidup di dalamnya yaitu seniman teater.

=== bersambung===

One thought on “Teater dan Pertunjukan

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.