Teater di Sekolah: Antara Pengalaman dan Pemahaman #2

Oleh: Eko Santosa

2. Antara Drama dan Teater

Perbedaan antara drama dan teater sampai saat ini masih belum begitu jernih bagi sebagian guru. Meski dapat dipahami bahwa teater adalah pertunjukan namun dalam banyak pengalaman terjumpai bahwasanya drama juga bisa dipertunjukkan. Hasil akhir dari konsep pemikiran ini menyatakan bahwa drama dengan demikian adalah teater atau sebaliknya. Kondisi ini menjadikan pembedaan konsep dasar antara teater dan drama sebagai pendekatan pembelajaran mengalami kebingungan. Apakah ketika siswa pentas disebut sebagai teater atau pementasan drama. Apakah pentas teater yang menggunakan naskah disebut sebagai drama? Apakah teater menunjukkan tempat di mana pentas itu deselenggarakan sedangkan pentasnya sendiri adalah drama? Jika teater adalah pementasan, lalu di manakah drama ketika pementasan tersebut berlangsung? Banyak lagi pertanyaan yang mungkin akan muncul ketika perihal teater dan drama ini diperbincangkan. Intinya, pembedaan konsep dasar tentang drama dan teater belum sepenuhnya bisa diterima.

Adalah hal yang wajar dan bisa saja diterima sebenarnya di dalam konsep seni pertunjukan bahwasanya teater adalah drama dan sebaliknya. Namun dalam pembelajaran dan kajian keilmuan semestinya makna dasar keduanya tetap diberikan dan dipahami. Menjadi permasalahan adalah ketika pemahaman baru tidak bisa menggeser pemahaman lama yang telah bertengger menahun. Sejak masa sebelum teater masuk ke dalam kurikulum pembelajaran di sekolah umum dasar dan menengah, drama menjadi satu-satunya pemahaman atas seni pertunjuan berbasis kata-kata. Drama pada masa itu diajarkan sebagai bagian dari pembelajaran bahasa sub sastra. Berbeda dengan karya sastra lainnya, drama memiliki arti penting dan mungkin mengeram dalam memori cukup lama dan tak terlupakan bagi para pelajar karena keunikannya untuk dipentaskan. Ya, memang pada masa-masa itu pelajaran drama umumnya diakhiri dengan pementasan meskipun hanya di depan kelas dengan durasi singkat.

Pengalaman mementaskan drama di depan kelas tersebut bisa menjadi monumen dalam pikiran yang sulit untuk diruntuhkan dengan pemaknaan baru bahwa, “drama yang dipentaskan adalah teater”. Monumen dalam pikiran telah terbangun kokoh bahwa drama merupakan serangkaian proses karya sastra dari produksi teks lakon hingga sampai ke pementasannya. Banyak guru yang semasa masih menajdi siswa dan belajar di sekolah dituntun untuk membangun monumen ini. Ketika pada saatnya istilah teater hadir di sekolah, maka kegamangan pemahaman mulai terjadi. Teater seolah hendak menggusur drama dan pemilik monumen drama tidak rela pikirannya digusur begitu saja. Apalagi dalam pelajaran sastra monumen ini tetap ditegakkan, bukan tanpa alasan tetapi memang karena menjadi bagian integral darinya.

Menjadi soal dan terus selalu menarik diperbincangkan soal tarik-ulur makna ini, karena guru teater yang sekarang ini tentu saja berbeda dengan guru sastra, telah memiliki pengalaman dengan drama bertahun-tahun. Sementara, pemahaman mengenai teater baru mungkin terdapati ketika mereka berada di perguruan tinggi. Itu pun tidak atau belum tentu sepenuhnya mampu menggeser pemahaman akan drama. Dari sini kemudian mulai terlihat bahwa tarik-ulur pemaknaan drama dan teater tidaklah berasal dari istilah drama dan teater itu sendiri, melainkan dari si pemiliki pengalaman (pikiran). Kerelaan untuk mengadopsi pemahaman baru memang diperlukan. Bukan dalam konteks benar atau salah, kalah atau menang melainkan bahwa definisi dalam seni ditetapkan hanya ketika ia berada pada pemahaman dasar dengan tujuan untuk pengajaran.

Konsepsi dasar bahwa teater adalah gedung pertunjukan dan kemudian berkembang menjadi pertunjukan dan drama adalah lakon atau karya sastra yang di dalamnya memuat lakuan (aksi) sesungguhnya lebih mengarah pada pemaknaan epistemologis. Perlu ada batas-batas kajian pengetahuan yang mesti dipahami sehingga jelas bidang garapan antara satu ilmu dengan ilmu lain. Pada titik ini, pemaknaan Sudiro Satoto menjadi sangat penting untuk dicatat bahwa ketika naskah drama (lakon) akan diproduksi ke dalam pementasan, maka sejak saat itu bidang garapannya ada di teater. Jadi, mulai dari membedah naskah untuk kepentingan pementasan hingga sampai ke pementasan menjadi wilayah teater. Sementara pembahasan drama berhenti pada karya sastra (teks) dan kajian-kaijan tentangnya di luar tujuan pementasan. Batas atau pemahaman dasar semacam ini penting untuk dimengerti serta dipahami dengan kerelaan. Soal kemudian kembali lagi pada pemaknaan bahwa teater adalah drama dan drama adalah teater, hal itu tergantung masing-masing individu di dalam memaknai pengalaman-pengalaman yang telah dilalui. Selama ia bisa dan mau memahami konsepsi dasarnya tidaklah menjadi masalah.

==== bersambung =====

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: