Teater di Sekolah: Antara Pengalaman dan Pemahaman #3

Oleh: Eko Santosa

3. Latihan Teknik dan Teknik Pemeranan

Pemahaman mengenai proses berteater sangat erat kaitannya dengan budaya pengajaran. Materi ajar yang diberikan dan dipercaya sebagai sebuah kebenaran seringkali ditetapkan oleh pembelajar. Artinya, pemaknaan atas apa yang diajarkan sulit sekali untuk diubah jika tidak dalam kondisi tertentu yang mampu memantik kesadaran. Oleh karena itulah di dalam pengajaran akting teater, seorang pelaith yang baik selalu tidak berusaha untuk tidak membentuk ekspresi pemain melainkan berusaha dengan keras mengarahkan pemain agar mampu menemukan sendiri ekspresi yang diharapkan. Hal ini didasari pengalaman bahwa ketika espresi telah terbentuk, maka akan sangat sulit mengubahnya. Tidak hanya soal tubuh dan mimik yang telah terbentuk tetapi juga mindset.

Model pengajaran yang banyak dijumpai memang cenderung menetapkan pemahaman atau tahapan yang mesti dilalui dalam sebuah proses. Meski di sekolah banyak diungkapkan model-model pengajaran baru, namun pengajaran teater kebanyakan telah tertetapkan. Serangkaian pemahaman dan tahapan pun dengan demikian seolah-olah menjadi seragam. Di dalam banyak perbincangan, perdebatan terjadi bukan pada persoalan pemahaman atau tahapan baru yang bisa dan mungkin untuk ditemukan dan dikembangkan melainkan lebih pada ketepatan pemaknaan atas pemahaman dan tahapan. Kondisi ini membuat diskusi seringkali berlangsung melingkar-lingkar dengan titik akhir pada subjektifitas.

baca juga : Teater di Sekolah: Antara Pengalaman dan Pemahaman #2

Kondisi ini menjadikan informasi baru terhalang oleh pemahaman yang telah ditetapkan tersebut. Soal teknik pemeranan misalnya, telah lama dipahami sebagai bagian pokok dari latihan pemeranan untuk mendapatkan penghayatan peran yang baik. Teknik pemeranan kemudian dileburkan ke dalam tahap-tahap produksi pementasan wabil khusus pada sesi latihan peran setelah lepas naskah. Soal apakah ada atau tidaknya teknis khusus berperan yang dilatihkan itu bersifat subjektif. Artinya, pelatih satu dan lain berbeda dalam menerapkannya. Ada yang memiliki sesi khusus untuk melatihkan teknik pemeranan tertentu tetapi ada yang tidak. Intinya, pemahaman tentang teknik pemeranan adalah melatih pemeran agar bisa berperan dengan baik sesuai peran yang dimainkan. Pemahaman ini telah dengan sendirinya tertetapkan dan dengan demikian menghalangi informasi baru yang diberikan misalnya soal latihan teknik. Tanpa perlu menelusur atau mempelajari terlebih dahulu, lathan teknik langsung diarahkan pada pemahaman latihan plus teknik (pemeranan). Hal inilah yang terjadi dalam perbincangan soal latihan teknik dengan para guru atau pelatih teater pada umumnya.

Sementara itu dalam proses produksi teater profesional, latihan teknik adalah latihan khusus hal-hal terkait teknologi panggung dalam pementasan. Sesi latihan ini digunakan untuk mencobakan tata panggung, cahaya, suara, bahkan rias dan busana. Tujuan dari latihan ini adalah agar hal-hal teknis di luar pemeran dapat diterapkan dengan baik sesuai yang dikonsepkan. Sesi latihan ini membutuhkan waktu khusus yang tidak sebentar. Di dalam sesi khusus tata panggung misalnya, segala perpindahan set dekor harus dilatihkan sehingga waktu tersedia selama perpindahan dapat ditempuh. Selama latihan perpindahan set ini pemain juga terlibat di dalamnya sehingga ketika dalam satu adegan setelah perpindahan set beberapa pemain harus sudah on stage, maka hal tersebut mesti dipastikan berjalan dengan baik. Berikutnya tentu saja tata cahaya mesti mendukung dan pas digunakan untuk perpindanan set dan adegan tersebut. Intinya, latihan teknik memerlukan perhatian khusus dari segenap elemen artistik pementasan.

Latihan ini merupakan keharusan di dalam proses produksi, karena kesalahan teknis kecil saja dapat merusak jalannya pertunjukan. Di banyak produksi pementasan seringkali terjadi hal-hal teknis tidak berjalan padu dalam pementasan. Misalnya, suara ilustrasi musik terdengar lebih keras sehingga dialog pemain menjadi samar terdengar. Sering juga terjadi, set dekor belum sempurna tertata tetapi cahaya sudah menerangi panggung sehingga keberadaan kru di atas panggung terlihat oleh penonton atau busana yang justru menghalangi gerak pemain sehingga melahirkan kelucuan yang tak diharapkan. Hal-hal semacam ini semestinya tidak terjadi ketika latihan teknik dijalankan dengan baik. Namun demikian, proses produksi teater di sekolah secara umum tidak menyelenggarakan latihan teknik sehingga kesalahan pemahaman bahwa latihan teknik adalah melatihkan teknik pemeranan terjadi.

Teater di sekolah semestinya menetapkan latihan teknik menjadi salah satu tahap wajib dalam proses produksi sebagai bagian dari pembelajaran. Dalam hal ini, siswa tidak hanya belajar akting saja namun juga tata artistik dan kerjasama antara pemeran dan penata artistik dalam sebuah pementasan. Selain itu, kedudukan para penata artistik menjadi sangat penting dalam latihan teknik sejajar dengan pemain dalam permainan peran. Artinya, di dalam teater, semua profesi artistik mendapatkan apresiasi sesuai bidang kerjanya. Dengan demikian siswa mendapatkan gambaran lebih besar tentang bidang kerja yang bisa dilibati di dalam teater. Walakin, hal paling mendasar sebelum melaksanakan hal tersebut adalah pemahaman akan pentingnya latihan teknik telah dimiliki oleh guru bersangkutan. Pemahaman ini menjadi niscaya bagi berlangsung dan membudayanya latihan teknik dalam proses produksi teater sekolah.

==== bersambung ====

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: