Teater di Sekolah: Antara Pengalaman dan Pemahaman #5

Oleh: Eko Santosa

5. Gaya Pementasan

Gaya pementasan sebagaimana disampaikan oleh McTigue merupakan citarasa atau ragam khas seniman teater dalam menampilkan karyanya di atas pentas. Masing-masing seniman memiliki konsep sendiri tentang gaya ini. Untuk media ungkap gayanya bisa saja melalui teater gerak, musikal, atau bentuk dan jenis pementasan teater lainnya. Gaya yang bisa juga disebut isme ini kurang banyak dibedah dalam kelas-kelas pendidikan. Isme yang umum diajarkan di sekolah adalah realis. Hal ini dikarenakan realisme menyajikan persoalan berbasis kehidupan nyata di atas pentas. Faktor kenyataan inilah yang membuat realis begitu mudah mengadaptasi persoalan sosial yang di dalamnya dapat dititipi beragam nilai yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Dalam pelaksanaannya, teater realis ini mewujud pula dalam materi ajar drama khususnya sosio-drama. Akibatnya, realis menjadi populer (membudaya) dan mengalahkan gaya pementasan lain. Kepopuleran realis ini membuat hampir semua gaya dalam pementasan teater disikapi dengan cara pandang realisme.

baca juga : Teater di Sekolah: Antara Pengalaman dan Pemahaman #4

Sementara itu dalam khasanah pertunjukan panggung di luar sekolah, banyak bermunculan gaya selain realis yang ditampilkan. Namun demikian, cara pandang guru teater sekolah umumnya selalu menarik gaya-gaya tersebut ke dalam nalar realisme. Bahkan penilaian bagus-jeleknya sebuah pementasan selalu menggunakan skala realisme. Hasilnya, hampir tidak ada pendekatan pembelajaran teater di sekolah yang digunakan selain realisme yang mana polanya sedikit-banyak telah baku. Artinya, hampir semua guru teater di sekolah menerapkan pola yang sama dalam pembelajaran teater.

Pemahaman gaya realis yang telah membudaya ini berdampak pada pemaknaan atas bentuk pertunjukan teater. Karena teater realis hampir pasti diekspresikan melalui kata-kata (dialog) antarpemain, maka bentuk-bentuk lain seperti teater berbasis gerak, musik, atau menggunakan boneka menjadi langka. Bahkan, realisme pun terkadang dianggap sebagai bentuk pementasan teater. Padahal perbedaan bentuk dan gaya dapat dijelaskan dengan cara mudah. Misalnya, jika aktivitas orang berjalan adalah bentuk, maka cara berjalan adalah gaya. Oleh karena itulah antara peragawati dan petani pastilah berbeda gaya meskipun keduanya sama-sama berjalan. Namun demikian, karena khasanah bentuk pementasan selain teater kata-kata bergaya realis jarang atau tidak pernah dikenalkan secara komprehensif, maka gaya dan bentuk seolah tidak ada bedanya.

Secara lebih mendalam, bahkan di dalam bentuk yang sama pun, seperti aktivitas orang berjalan, gaya di dalam teater dapat dibedakan. Media ungkap kata-kata yang digunakan di dalam teater realis juga digunakan oleh gaya lain yang tentu saja sturktur, lagu, fungsi, dan mungkin maknanya berbeda. Misalnya, teater surealis dan teater absurd. Akan tetapi ungkapan kata-kata dalam kerangka realis seolah tidak bisa ditawar lagi. Hal ini mengakibatkan, kata-kata yang umumnya diucapkan melalui wicara dan dialog pemeran dipahami secara (ditarik ke dalam pemahaman) realis. Alur cerita yang bisa saja disampaikan secara tak kronologis, ditarik ke dalam alur kronologis. Ketika upaya penarikan ini tak tertemukan, maka kebingungan yang muncul dan kemudian memberikan alamat bahwa teater yang disajikan tidak mudah dipahami, memusingkan, dan karenanya tidak baik.

Memahami sebuah gaya pementasan memang tidaklah mudah namun bisa dipelajari dengan keterbukaan pikiran. Di dalam pertunjukan teater modern biasanya panitia produksi menyediakan leaflet atau booklet yang berisi informasi seputar pementasan. Tidak jarang pula di dalamnya memuat konsep pertunjukan. Dengan sedikit keikhlasan untuk membuka pikiran dan mau menerima konsep yang ditawarkan, maka peluang besar untuk memahami pertunjukan yang akan digelar didapatkan. Namun jika konsep yang ditawarkan bukan mengacu pada realisme namun coba tetap dipahami dalam kerangka realis, maka bisa jadi kesilang-sengkarutan pemahaman yang akan didapatkan. Pada akhirnya, apakah kita  akan menyerap informasi artistik pementasan yang berlangsung atau memaksakan semua informasi dalam kerangka yang sudah ada sebelumnya di pikiran sangat bergantung dari kebijaksanaan masing-masing. Kebijaksanaan untuk menentukan apakah sebaiknya menambah wawasan artistik atau mencukupkan yang sudah kita miliki. (**)

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: