Eduteater

Teknik Timing Dalam Pemeranan #Part2

Teknik Timing Dalam Pemeranan #Part2

Baca juga : Teknik Timing Dalam Pemeranan #Part1

Gerakan menendang kursi tidak ada kaitan atau berbeda artinya dengan kata “pergi”, namun menggambarkan kemarahan pada diri Arja karena Daryat gagal dalam pekerjaannya. Jika gerakan tangan dalam contoh adegan pertama lebih menekankan pada tindak pengusiran yang dilakukan Arja terhadap Daryat, maka gerakan menendang kursi pada contoh adegan berikutnya lebih menekankan kemarahan pada diri Arja. Namun, meskipun marah kata-kata yang diucapkan harus jelas terdengar.

Sementara itu apa yang disampaikan Rendra dalam hal gerakan-gerakan yang dilakukan pada saat berbicara lebih menunjukkan sisi emosional dan bukan untuk menekankan kata, bisa terjadi pada saat-saat tertentu saja. Karena, kejelasan kata bagaimanapun juga harus tetap dijaga agar jelas maksudnya meskipun tidak mendapatkan penekanan. Oleh karena itu, dalam teknik ini ketepatan antara gerakan dan emosi benar-benar harus terjadi. Sebab, banyak sekali pemeran yang ketika beraksi selalu menggerakkan anggota tubuh namun tanpa makna atau penekanan khusus. Akibatnya, kata-kata yang diucapkan tanpa tekanan dibarengi gerakan penggambaran emosi yang kabur menjadikan aksi tiada arti. Perhatikan cuplikan adegan di bawah ini.

Seseorang : (SAMBIL MENGIBAS-IBASKAN TA-NGANNYA) Ahh.. sudah sudah! (SAMBIL MENGIBASKAN TANGANNYA) Semua tidak ada yang becus!. Kamu! (SAMBIL MENUNJUK), juga kamu! (SAMBIL MENUNJUK), dan kalian semua (SAMBIL MEMBUKA TANGAN) tidak becus! (SAMBIL MENGGERAKKAN TANGAN KE KANAN DAN KE KIRI) Akulah yang memimpin sekarang (SAMBIL MENEPUK DADA), ya… aku!! (SAMBIL MENEPUK DADA)

Dalam adegan di atas, gerakan yang dilakukan tokoh lebih menggambarkan emosinya daripada kata-kata yang diucapkan. Hal ini bisa terjadi karena kata atau kalimat yang dilontarkan tidak panjang serta berulang-ulang sehingga gerakan yang dilakukan ketika ia berbicara lebih mudah ditangkap oleh mata penonton. Kondisi seperti inilah yang dimaksudkan oleh Rendra. Teknik timing lebih menekankan emosi melalui gerakan yang dilakukan ketika berbicara.

Akan tetapi dalam kondisi atau peristiwa yang lain banyak gerak yang dilakukan oleh tokoh peran tidak harus melemahkan makna kata. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita jumpai orang-orang yang berbicara sambil mengerjakan sesuatu. Pada saat itu baik gerak atau ucapan sama-sama mendapatkan tekanan. Artinya, apa yang diucapkan harus jelas terdengar dan dipahami oleh lawan bicara sementara pekerjaan yang dilakukan tetap berjalan. Baru pada hal-hal tertentu, penekanan bisa dilakukan baik melalui kata-kata saja, gerakan saja atau kata dan gerak secara bersama-sama. Untuk penekanan semacam ini, teknik timing harus dibarengi dengan jeda. Perhatikan cuplikan adegan di bawah ini.

SARMI DAN MURNI SEDANG BERCAKAP-CAKAP SAMBIL MENYULAM.

Sarmi : (SAMBIL TERUS MENYULAM) Mur, hari Sabtu kemarin kamu pergi kemana?

Murni : (SAMBIL TERUS MENYULAM) Biasa Mi, aku pergi ke rumah Darsih. Soalnya kan dia minta diajari menyulam. Ya hitung-hitung daripada nganggur.

Sarmi : (SAMBIL TERUS MENYULAM) Lho? Bukankah ia sekarang sudah bekerja di kantor?

Murni : (SAMBIL TERUS MENYULAM) Memang. Tapi katanya untuk mengisi waktu luang sekalian mengembangkan diri. Siapa tahu satu saat nanti bisa menghasilkan tambahan ekonomi katanya.

Sarmi : (SAMBIL TERUS MENYULAM) Darsih itu orangnya memang tekun. Waktu sekolah dia juga rajin. Hari-harinya dihabiskan untuk belajar. Karena itu pula sampai sekarang ia belum punya pasangan.

Murni : (SAMBIL MENYULAM) Tapi sekarang lain Mi. (MENGHENTIKAN SULAMANNYA) Kamu tahu tidak, Darsih sudah punya pacar sekarang.

Sarmi : (MENGHENTIKAN SULAMANNYA) Benar begitukah? (MENDEKAT KE MURNI) Trus siapa pacarnya?

Dalam cuplikan adegan di atas, ketika berbicara, Sarmi dan Murni sambil terus menyulam.

tobe continued……………

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.