Eduteater

Teks, Aktor, dan Sutradara (Sebuah catatan mengenai proses transformasi teks) Part – 4

Teks, Aktor, dan Sutradara (Sebuah catatan mengenai proses transformasi teks) Part – 4

Oleh: Eko Santosa

Baca juga : Teks, Aktor, dan Sutradara (Sebuah catatan mengenai proses transformasi teks) part -3

SUTRADARA

  1. Sutradara Adalah Kawan Diskusi

Proses kesepakatan yang baik dan adil bagi pihak yang bersepakat adalah dengan berbicara terbuka dan saling menerima pendapat serta kritik. Pendapat yang paling logis adalah yang menjadi sebuah keputusan. Jika keputusan yang terjadi adalah sepihak (meskipun itu sah dilakukan dalam teknik penyutradaraan) tentu akan terasa berat dan mengganjal bagi pelaku kesepakatan (aktor). Berdasarkan pemikiran tersebut maka diskusi secara terbuka (mulai dari pengenalan naskah) dapat dilakukan oleh seorang sutradara agar segala keputusan yang dihasilkan tidak saling memberatkan tugas satu sama lain.

Dengan diskusi terbuka, aktor dan sutradara diharapkan saling mengemukakan ide dan gagasan dalam setiap laku cerita yang hendak dimainkan. Sebelum melakukan diskusi ini sang sutradara sudah menentukan lebih dulu garis besar interpretasi lakon sehingga kesepakatan yang dihasilkan dalam diskusi ini hanya detil (bagian) interpretasi. Sebagai contoh; dalam naskah lakon disebutkan bahwa aktor (A dan B) mendengar sebuah suara. Garis besar interpretasi telah ditentukan bahwa aktor (A) mencoba mempengaruhi (B) melalui sebuah cerita sebelum suara itu terdengar. Selanjutnya, sutradara berpendapat bahwa suara itu hanyalah alat atau sarana untuk mengubah arah pembicaraan. Aktor (A) berpendapat suara itu memang terdengar karena ia merupakan bagian imajinasi cerita sebelumnya. Aktor (B) berpendapat bahwa suara itu adalah simbol ketakutan.

Ketiga pendapat ini kemudian dibicarakan dan dicari pendapat siapa yang paling tepat dalam hubungannya dengan garis besar interpretasi lakon. Pendapat yang paling tepat (logis) ini selanjutnya disepakati untuk dimainkan. Tidak menutup kemungkinan bahwa pendapat yang ini dapat berubah pada waktu lain jika terdapat alasan yang lebih logis dan alasan tersebut tidak melanggar garis besar interpretasi. Pelaksanaan diskusi seperti ini diadakan terutama pada bagian-bagian yang memang membutuhkan kesepakatan antara sutradara dan aktor. Dapat juga dilakukan ketika seorang aktor mengalami kesulitan mendasar atau merasakan beban dalam proses latihan sehingga mengganjal laku peran yang harus ia kerjakan. Jika proses dapat berjalan lancar dan menemukan kesepakatan sejak awal maka diskusi dapat berupa reviewing atau evaluasi terhadap latihan yang telah dikerjakan.

  1. Sutradara adalah Pengamat dan Kritikus

Sebagai seorang pengamat sutradara mengamati proses latihan berdasar kepada keputusan-keputusan yang telah ditentukan dalam diskusi sebelumnya. Sutradara dapat mengamati segala aspek yang dimiliki oleh aktor dan bagaimana aktor menggunakan seluruh aspek tersebut dalam melakukan peran. Hasil dari pengamatan (sesuai dengan point of view yang dimiliki sutradara) ini selanjutnya digunakan sebagai bahan kritik terhadap aktor.

Kritik sutradara kemudian menjadi input dalam diskusi selanjutnya. Dalam sesi ini aktor boleh (diharapkan) mengungkapkan segala macam persoalan atau kendala yang dihadapi dalam laku peran yang ia mainkan. Kendala, hambatan atau masalah aktor ini harus dapat ditemukan solusinya secara bersama. Sutradara dapat melakukan pendekatan persuasif kepada aktor yang bersangkutan dan atau meninjau ulang interpretasi yang telah ditentukan. Dengan langkah meninjau ulang ini kemungkinan akan ditemui tiga macam dasar persoalan. Pertama, aktor memang belum paham terhadap interpretasi lakon. Kedua, aktor paham interpretasi lakon tapi mengalami kesulitan personal (psikologis – filosofis) dalam melakukannya. Ketiga, interpretasi dirasa kurang sesuai sehingga membutuhkan sedikit perubahan dan disesuaikan dengan imajinasi aktor.

Dalam menyelesaikan persoalan pertama, sutradara perlu menjelaskan lagi interpretasi lakon yang telah ditentukan. Aktor boleh menanyakan semua ketidakjelasannya pada sutradara. Untuk mencapai hasil yang baik maka sutradara menjawab semua pertanyaan aktor tersebut hingga sampai aktor betul-betul memahami interpretasi lakon. Kepahaman terhadap interpretasi merupakan hal yang tidak boleh diabaikan karena ia mempengaruhi keseluruhan laku lakon.

Untuk memecahkan masalah kedua, sutradara perlu melakukan pendekatan pribadi terhadap aktor. Membicarakan persoalan dari hati ke hati akan membuat aktor merasa diperhatikan dan bersedia mengungkapkan kendala atau beban yang dihadapi. Latar belakang terjadinya masalah yang dihadapi sangat dibutuhkan untuk menemukan jalan keluar. Aktor dalam hal ini diharapkan berkata jujur sehingga sutradara akan dapat memahami persoalan dasarnya yang selanjutnya bersama-sama dengan aktor mencari jalan keluar termudah dan terbaik. Situasi seperti ini sering dihadapi dalam sebuah poduksi. Dengan saling berbicara terbuka maka kesulitan yang ditemui akan mendapatkan pemecahannya.

Penyelesaian persoalan ketiga yang menyangkut interpretasi lakon memerlukan diskusi kusus antara aktor dan sutradara. Sudut pandang aktor perlu mendapat perhatian. Sutradara dapat mendengarkan alasan atau rasional yang diuraikan aktor terhadap interpretasi. Selanjutnya latihan dicoba lagi seperti apa yang dikehendaki oleh aktor. Selesai latihan sutradara mengungkapkan pandangan-pandangannya (kritik) terhadap interpretasi yang divisualisasikan aktor. Jika seandainya dirasa pantas maka interpretasi tersebut yang selanjutnya dipakai, jika tidak maka perlu dibicarakan lagi dan dicari kemungkinan lain hingga terdapat kecocokan antara aktor dan sutradara. Semua dilakukan untuk menemukan satu kesatuan bentuk yang disepakati dan dapat dikerjakan secara enak oleh aktor serta dipandang sesuai menurut kacamata sutradara.

  1. Sutradara Menjaga Nada Dasar

Meskipun konsep dasar pementasan lebih menitikberatkan pada bidang keaktoran, tetapi sutradara tetap harus menjaga nada dasar yang telah ditentukan. Sebebas apapun aktor bermain di atas pentas, mereka tetap bermain atas arahan dan bimbingan sutradara. Dalam hal ini, gaya realisme  menjadi patokan atau pijakan dasar pengembangan kreatifitas aktor di atas pentas.  Segala bentuk business acting dapat dan boleh saja diterapkan tetapi tetap dalam kerangka realisme. Untuk itu sutradara harus jeli mengamati perkembangan proses permainan aktor.

Menjaga nada dasar bukanlah hal yang mudah karena (biasanya) aktor yang dibebaskan (diberi kebebasan) dapat dengan mudah terjebak secara emosional sehingga mengembangkan permainan menuruti kemauan pribadinya. Keadaan ini tidak menguntungkan karena sang aktor tidak bermain sendirian. Jika satu aktor terseret secara emosional maka aktor yang lain akan mengikuti atau mengimbangi kondisi tersebut. Akibat lebih jauh dari peristiwa ini adalah, aktor lepas karakter atau aktor memberi penekanan pada bagian-bagian yang tidak perlu sehingga makna teks akan bergeser atau berubah. Jika demikian maka dipastikan bahwa dinamika lakon menjadi terpengaruh dan konsep dasar pementasan berubah.

Untuk menghindari terjadinya inkonsistensi karakter, konsep serta tujuan dasar pementasan maka sutradara harus tetap mengawal permainan aktor mengikuti garis yang telah ditentukan.  Selain beberapa konsep pemeranan yang telah disebutkan di atas, penggunaan imajinasi peristiwa hidup sesungguhnya merupakan salah satu cara untuk membangkitkan kesadaran aktor bahwa ia tidak sedang bermain teater melainkan menyajikan satu lakon hidup manusia. Analogi peristiwa dapat dijadikan gambaran atau arahan laku aktor dalam bermain peran. Sutradara bertugas untuk selalu mengingatkan serta memberi pemahaman kepada aktor dalam hal ini. Dalam setiap kesempatan (waktu latihan) ketika aktor mulai melenceng dari tujuan awal, sutradara bisa memberikan arahan secara langsung dan memberikan gambaran-gambaran peristiwa serta karakter yang ada dalam diri aktor.  Jika proses ini dipahami dan dilaksanakan dengan baik oleh aktor maka nada dasar yang telah ditentukan oleh sutradara akan terjaga dan aktor dapat berperan secara konsisten.

—–

Proses transformasi di atas yang dipandang dari tiga aspek; teks, aktor, dan sutradara hanyalah merupakan salah satu model. Banyak terdapat model, teori atau metode untuk melakukan proses transformasi teks ke dalam pementasan panggung. Setiap seniman (pelaku teater) memiliki tahapan dan cara pandang tersendiri dalam proses perwujudan lakon. Uraian ini disampaikan sebagai catatan sederhana yang dapat digunakan untuk  bahan “bagi pengalaman”. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi sekalian pembaca.

(*)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.