Eduteater

Teks, Aktor, dan Sutradara

Teks, Aktor, dan Sutradara
(Sebuah catatan mengenai proses transformasi teks)

Oleh: Eko Santosa

eko-ompongTeater modern memiliki 4 (empat) aspek penting yang tidak boleh diabaikan; teks (lakon), sutradara, aktor, dan penonton. Dalam kaitannya dengan komunikasi maka ketiga aspek pertama merupakan penyampai komunikasi dan penonton adalah komunikan. Bahan komunikasi berasal dari teks lakon. Seorang seniman teater tidak mungkin menampilkan sebuah pertunjukan tanpa sebuah lakon. Sesederhana apapun lakon itu sangat dibutuhkan, bahkan ketika ia hanya sebuah ide atau sebaris kalimat, yang jelas lakon harus ada. Dengan berdasar pada lakon ini pekerja teater mewujudkan kreasinya di atas panggung.

Proses perwujudan teks (lakon) ke atas panggung membutuhkan kreatifitas dan teknik tersendiri. Metode yang diterapkan bisa dan boleh saja berbeda tetapi tujuannya adalah sama; menghadirkan teater (mengaktualisasikan cerita) di atas panggung. Tahapan-tahapan transformasi ini dapat ditinjau dari tiga aspek, yaitu; teks, aktor, dan sutradara.  Ketiga aspek tersebut saling berkaitan dan mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya. Pendekatan dan tahapan proses transformasi teks yang akan dibahas di bawah ini pernah dilakukan oleh Teater Pas Abang Yogyakarta dalam pementasan “Yitma Sucyaku” (bahasa Jawa) terjemahan bebas dari naskah “Arwah-arwah” karya W.B. Yeats.  Pentas tersebut diselenggarakan di Gedung Panti Wiloso Muda-Mudi Purworejo Jawa Tengah, pada tanggal 22 Desember 2001. Pendukung pementasan adalah; alih bahasa: Jaka Sarwana, sutradara: Puthut Buchori dan Eko Ompong, pemain: Tafsir Huda dan Setya Prayoga.

KONSEP DASAR

Sebelum membahas lebih jauh tentang proses pemindahan teks ke atas pentas, perlu kiranya ditentukan konsep artistik pementasan yang akan dilakukan. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, sutradara atau produser (yang memiliki ide pementasan) mempelajari keseluruhan isi naskah dan kemudian menentukan interpretasi dasar  dari naskah. Interpretasi dasar (global) inilah yang selanjutnya dijadikan patokan (guide line) dari keseluruhan proses artsitik yang dikerjakan.

Dalam penggarapan “Yitma Sucyaku”, sutradara tidak memiliki versi interpretasi lain selain dari apa yang ada di dalam teks. Artinya, konsep dasar pementasan benar-benar bermula dari teks yang digali secara tampak luar untuk menampilkan sisi persoalan dalam cerita dan bukan mencari simbol makna atau keterkaitan makna dengan keadaan kekinian (tekstual). Hal ini dimaksudkan untuk menampilkan cerita apa adanya dari awal sampai akhir. Makna dari cerita atau inti pesan cerita diharapkan muncul atau dimunculkan oleh aksi para aktor di atas pentas. Dengan demikian maka wilayah artistik aktor yang ditekankan untuk diolah.

Guna mendukung tujuan konsep dasar tersebut, tata artistik digarap secara minimalis. Latar cerita “Yitma Sucyaku” yang menggambarkan rumah tingkat habis terbakar dan pohon yang terbelah karena disambar petir dihadirkan secara suggestive. Artinya, keadaan tersebut ditampilkan di atas pentas dengan sederhana tapi representatif. Intinya, para aktor harus menganggap bahwa bentuk tata dekorasi yang ada adalah rumah tingkat terbakar dan pohon terbelah petir. Tata lampu juga hanya tampil sebagai penerang agar permainan aktor dapat ditangkap oleh mata penonton. Untuk meyakini keadaan ini para aktor harus menggunakan kekuatan imajinasinya sehingga benar-benar merasa berada dalam situasi yang dikehendaki oleh cerita. Kondisi ini dipertegas dengan tanpa hadirnya musik ilustrasi yang biasanya digunakan untuk mendukung situasi cerita atau menghadirkan efek-efek suara khusus sehingga cerita yang ditampilkan seolah-olah benar-benar terjadi. Absennya tata musik juga merupakan tantangan tersendiri bagi aktor untuk mengimajinasikan dan menghadirkan peristiwa lakon di atas pentas. Tapi, inilah inti dari proses penggarapan lakon “Yitma Sucyaku”.  Jika seandainya di atas panggung hanya ada aktor dan teks, apakah pertunjukan tidak jadi diadakan? Tentu saja tidak.

Dalam pementasan teater, aktorlah yang berhadapan langsung dengan penonton, ialah yang menyampaikan cerita tersebut secara langsung, ialah yang menghadirkan cerita, menghadirkan peristiwa di atas pentas. Atas dasar pikiran seperti inilah maka pentas lakon “Yitma Sucyaku” lebih menitikberatkan pada seni peran. Sebagai dasar pijak eksplorasi akting, gaya realisme dipilih sebagai pendekatan. Realisme dipilih karena gaya ini mencoba menampilkan potongan peristiwa kehidupan ketimbang menyajikan sebuah pertunjukan teater di atas pentas. Dengan demikian kekuatan aktor benar-benar ditantang untuk menarik empati, menyedot perhatian, dan membangun imajinasi penonton  terhadap lakon yang disuguhkan. Untuk itu “the fourth wall” atau dinding keempat yang ada dalam konvensi realisme harus benar-benar diciptakan (secara imajiner) sehingga aktor benar-benar bisa main dengan dirinya sendiri dan lawan mainnya tanpa mempedulikan adanya (keterlibatan/kehadiran) penonton. Realisme sengaja membangun dinding keempat untuk memisahkan dunia penonton dan dunia pemain. Selanjutnya proses penghadiran peristiwa di atas pentas terjadi di dalam dinding keempat tersebut. Sebuah dunia (kehidupan) yang menjadi milik aktor secara mutlak selama pertunjukan berlangsung.

To be continued…

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.