Tukang Kayu Monolog Whani Darmawan

SEBUAH RUANG PEMENTASAN KECIL YANG SUBLIM DENGAN PENONTON

Ya saya memang sudah terbiasa membuat mebeler dengan bermacam-macam bentuk. Mulai dari gelondongan kayu utu dibelah, gelondonan utuh ditatah, atau bahkan dari serpihan-serpihan yang disatukan, disambung-sambung dengan pantek dan kemudian menjadi barang jadi. Kalau soal bentuk, sudahlah saya bukan sombong, dan tak akan mengaku-aku, tetapi saya bicara kenyataannya ; saya lah ahlinya. Tetapi sekali ini saya dipusingkan oleh pelanggan saya yang order untuk membuat meja bundar. Ya, meja bundar. Oh, pusing saya.

Sekali ini saya merasa diterkam hantu horor. Bagaimana tidak, saya yang memang ahlinya kayu, bagaimana mungkin saya bisa gagal membuat bundaran yang presisi untuk sebuah meja!

Tadinya saya menggampangkan saja karena itu toh pekerjaan mudah. Tetapi setelah berulangkali gagal, saya merasa ini ada yang aneh. Akhirnya setelah beberapa kali gagal, pemesan itu datang lagi dan mengatakan, “Ini saya bawakan contohnya. Sebuah meja yang bundar, yang pernah dibuat oleh leluhur saya tahun 1949. Saya ingn anda membuat meja sepersis ini! Berapapun beayanya akan saya bayar!”

Satu, leluhurnya pada tahun 1949. Dua, meja yang persis. Tiga, berapapun beayanya! Kok saya merasa diancam, ya? Dan kenapa pelanggan itu ngotot bahwa mejanya harus bundar? Bukankah bisa oval, empat persegi panjang, kubus. Kan lebih simpel. Katanya, “Tidak, pak. Bundar itu menyatukan.”

Kenapa musti sama dengan meja yang dibuat leluhur Anda? Tanya saya.

“Sebab itu sejarah yang ingin saya ingat.”

Ya sejarah itu kan Anda, kalau saya kan nggak tahu menahu. Hanya saja, kok sekarang saya tiba-tiba jadi ikut repot, ya. Mau tidak mau akhirnya saya terlibat dalam pembicaraan mendengarkan sejarah leluhurnya di tahun 1949 itu. Menurutnya itu sejarah awal mula penyatuan keluarga n pada saat yang sama perpecahan keluarga. Maksudnya? Ah pusing saya.

Ya, katanya waktu itu sebuah peristiwa besar terjadi. Leluhurnya berasal dari banyak etnis. Ada yang keturunan langsung para pelaut yang ganas abad XVI, yang mengembara dari satu negeri ke negeri lainnya, ada juga etnis berkulit hitam berambut keriting yang leluhurnya tinggal di pegunungan Cartenz, sebelah timur di ujung bumi ini. Begitu banyak yang jumlah keluarga, begitu luas tanah yang ingin dibagi oleh leluhur pelanggan saya ini, akhirnya diambilah kesepakatan untuk berembug di atas meja bundar ; sebuah meja berbentuk bundar yang entah dibuat pada abad ke berapa, tapi puncak konflik itu diselesaikan dengan meja itu pada tahun 1949.  Nah, tiba-tiba saja semuanya menjadi lancar — saya bilang lancar, bukan mudah — ketika perundingan dilakukan di meja bundar. Nah, merdekalah keluarga besar ini mengurus wilayahnya sendiri-sendiri. Tapi ternyata, semenjak peristiwa meja bundar itulah, itu juga merupakan peletakan batu penanda pertama bagi hancurnya hubungan pelanggan saya itu dengan keluarganya. Hancur!

TERDENGAR DENGING SUARA GERGAJI MESIN YANG SEDANG BEKERJA. TOKOH KITA MEMALINGKAN MUKANYA SEOLAH AKAN MENGHINDAR DARI SUARA BISING ITU. TETAPI SUARA ITU TIDAK JUGA REDA, IA PUN BERTERIAK,…..

Sudah saya bilaaaaang! Gelondongan kayu itu jangan dibelah-belaah sebelum kita punya order atau rencana apapun. Harrrtoooo!! Harttoooo!!! Wooiiiiiii….(MELAMBAIKAN TANGAN KE SISI SET WING. DAN DESING SUARA GERGAJI ITU PUN BERHENTI)……..anak zaman sekarang, tidak menghargai jerih payah orangtua di masa dulu. Anak saya, Harto, maunya ingin cepat kaya. Memangnya kita ini hidup di zaman sihir? Bandung Bondowoso? Mana ada kaya dengan cara mendadak? Tapi ia tidak percaya. Akibatnya begitu, ia bisnis membabi buta ; gelondongan-gelondongan kayu stock yang ada dibelahinya semua, biar bisa dujual secara mentahan! Hartooo, Hartooo, kalau begini caranya kamu bisa memecah belah keluargaaaaaa!!!  (JEDA) tetapi benarlah, saudara, setiap orangtua pada saatnya akan menjadi mahluk yang konyol. Bagaimana tidak, mendadak anak saya itu, Harto, memaksa saya untuk menandatangani nota peminjaman modal bank Amerikana, sebuah bank dunia yang pusatnya ada di negara Amerika. Lha, apa saya paham soal perbankan? Dan apakah Harto anak saya itu mengerti soal Amerika too?? Wiss sak karepmu toooo!! JEDA

Maaf, menyela. Biasalah problem rumah tangga. Nah, begitulah kisahnya. Sejak saat itu ia sangat percaya bahwa meja bundar itu menjadi awal dan akhir bagi dua masalah secara bergantian ; mengakhiri konflik dan pijakan memulai konflik. Kenapa bisa begitu ya?

MENDADAK TERDENGAR SUARA-SUARA GADUH, BERDENTAM, MENGGERAM, SEPERTI SUARA ALAT-ALAT BERAT YANG SEDANG BEROPERAAASSIII…

Atthoooooooooooo!!! Harrrtoooooo!! Apa-apaan kamu iniiii!?? Okeelaaah! Kamu memang berhasil membangun keluarga barumu itu dengan konsep ekonomi bisnis seblak sautmu ituu! Tapi tidak begini caranya! Kemarin hutan wilayah timur kamu habisi dan mengakibtkan banjir bandang terjadi, sekarang katanya kamu mengeksplorasi gunung mas. Athoooooo….!! mana ada gunung kok emas! Tapi terserah sajalah! Tapi mesin-mesin ituuuu, jangan dicobakan disiniiii, di pekarangan rumah yang cuma sepuluh hektar iniiiii!! Sanalaaah, kalau kamu mau ngeduk gunung. Dicobakan langsung di sanaaa!! Haaarrrtoooooooooo!!! Wooeee!

CEP. MESIN ALAT-ALAT BERAT ITU TAK TERDENGAR LAGI. TOKOH KITA TERSENGAL KEPAYAHAN.

Kamu memang hebat Harto! Menciptakan kesejahteraan sekaligus rongga-rongga masalah di keluarga besar ini. (JEDA) eh, mengenai meja bundar itu saudara-saudara, herannya, akhirnya saya yang dipersalahkan. Meja bundar yang saya buat, meniru persis meja bundar leluhur pemesan saya yang konon dibuat beberapa abad lampau dan dipakai untuk merampungkan masalah tahun 1949 itu, ternyata tidak persis. Bulatannya kurang presisi. Itu sebabnya, karena tidak bulat, maka persoalan yang dibicarakan di meja itu tidak kungjung selesai. Tidak menemukan solusinya! Lhaaaaaa….kok tukang kayunya yang dimasalahkan?? Pemesan saya itu tetap tidak mau terima,

“Tidak! Meja bundar buatan bapak ini tidak sungguh-sungguh sama dengan meja bundar yang dimiliki dan dipakai oleh leluhur saya. saya tidak mau terima!”

Eee masss! Di mana-mana orang berembug itu yang penting tekad rendah hatinya! Bukan soal mejanya! Mau bundar, mau kotak, bujur sangkar, lonjong, miring kiri, miring kanan gak ada urusan. Kalau utek perdamaian sampeyan memang menginginkan ya damai saja, tidak usah menyalahkan meja segala!!

SUARA ALAT BERAT MENYALA LAGI, SONTAK TOKOH KITA MENYALAK Harrrtoooo!!! Bajingan kamuuu!!  (ALAT DIAM) sudahlah, apapun masalah di keluarga Anda, silakan diselesaikan, gak usah melibatkan meja buatan saya. bahkan meja saya mau tidak dibayar tidak apa-apa – itung-itung saya menyumbang fasilitas untuk usaha runding meja bundar keluarga Anda.

SUARA ALAT BERAT MENYALA. TOKOH KITA MENYAHUT KERAS, Hartttoooo!! Kamu mau jadi pahlawan pembangunan di rumah ini yaa?? Aku tahu kamu sekarang kaya, tapi itu bukan berarti kamu bisa seenaknya tidak menghormati orangtuaaa!! (SUARA ALAT BERAT BERHENTI)

Sudahlah ya mas! Saya gak ada urusan dengan konferensi meja bundar keluarga Anda. Saya Cuma tukang kayu. Tugas saya menerima dan mengerjakan pesanan. Kalau pesanan tidak cocok ya diperbaiki, kalau tak bisa diperbaiki ya sudah. Meja pesaan itu mau pakai apa itu terserah Anda. Saya gak ada urusannya!

“Lalu bagaimana keluarga saya? keluarga saya sekarang pecah berantakan gara-gara tidak ada meja bundar!”

Mas, bukan soal meja bundar, tapi soal kemauan kita semua untuk rendah hati! Tapi mungkin keluarga besar sampeyan itu sudah terlanjur kena cekok cukong sehingga mereka saling cakar sendiri, tanpa bisa melihat siapa musuh besar bersama yang sesungguhnya!

“Karena itu saya membutuhkan meja bundaaarrrr!”

Entut beruuuutt!! Entuuutt beruuttt!!

TIBA-TIBA LAMPU MATI. LAMPU HALOGEEN MENYALA BERURUTAN DARI BERBAGAI SUDUT MENYOROT TUBUH TOKOH KITA.

Apa lagi ini? Kamu jangan main-main lagi lah Harto! Sudahlah, kamu mau apa dengan semua milik keluarga besarmu ini, tapi jangan ganggu hidupku. Terserah kamu mau apa. Mau jual seluruh tanah dan rumah ini, silakan. Mau jual bapakmu yang sudah renta ini boleh juga. Kalau pun kamu bisa, kamu mau jual bangsa ini silaaakaaann! Jual sajaaa! Jual saja semuaanyaaaa!!! Jual saja semuaanyaaa!!

MENDADAK RUANGAN ITU BERGETAR SEPERTI DITIMPA EARTHQUAKE. DARI KE EMPAT DINDING RUANG PERTUNJUKAN ITU JEBOL. BULDOZER DAN ALAT BERAT MEMASUKI RUANGAN ITU. PERTUNJUKAN USAI. LAMPU PADAM.

Omahkebon, Sabtu 18 Juni 2016.

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: