News

Upaya Kreatif Tak Berpadu Konsep : Dua ujian akhir Teater SMK 12 Surabaya

Lakon Welcome to the Peternakan, merupakan adapatasi dan sekaligus cropping dari novel Animal Farmkarya George Orwell. Sementara, Boncel adalah cerita rakyat Jawa Barat yang dilakonkan dengn model drama musikal oleh Rosyid E. Abby. Kedua lakon ini dipentaskan di hari yang sama yaitu tanggl 13 Februari 2018 di Taman Budaya Jawa Timur sebagai projek Tugas Akhir siswa tetaer SMK 12 Surabaya. Lakon pertama dipersembahkan dalam rangka ujian tata rias dan busasa, tata panggung, dan tata cahaya. Sedangkan lakon kedua untuk kepentingan ujian pemeranan. Menarik menyaksikan kreatifitas artistik siswa teater SMK 12 Surabaya. Dalam Welcome to the Peternakan, cerita memang tidak ditampilkan secara penuh hanya sekedar melatar belakangi konsep tata artistik yang hendak ditampilkan. Tata panggung menampilkan kandang-kandang binatang yang ditata-susun menjadi 2 tingkat. Komposisinya lumayan menarik. Garis-garis horizontal dan vertikal dipadukan dari material yang digunakan yaitu kayu dan seng. Susunan kandang besar ini selain digunakan untuk keluar masuk pemain juga sebagai latar visual adegan-adegan yang ada di depannya. Sayang penata panggung kurang memperhatikan ruang kosong dan isi, tinggi dan rendah, terbuka dan tertutup dalam menata panggungnya. Terkesan set menjadi serupa block besar tanpa dimensi. Seolah tak ada ruang dinamis di dalamnya, padahal ruang itu telah dibuat namun tidaklah kelihatan. Nampak bahwa tata panggung dihadirkan hanya untuk menggambarkan latar cerita. Sebagai karya tata artistik, panggung belum lagi bisa berbicara tentang jiwa penindasan, pemberontakan, dan kekuasaan yang ada di dalam cerita meski menarik untuk disaksikan.

Hal yang sama juga nampak dari tata rias dan busana. Para pemeran binatang dirias dengan menggunakan headdress kepala binatang dan wajahnya dilukis mengunakan body paint. Busana yang mereka kenakan sesuai dengan sifat masing-masing binatang dalam peternakan tetapi mengadopsi pakaian manusia. Ada yang sebagai pekerja, ada pemberani, dan ada pula yang sok menjadi bos. Sosok binatang yang dihadirkan adalah ayam, kambing, sapi, kuda, dan babi. Dalam pementasan, sosok binatang ini tidak begitu nampak. Mereka tenggelam dalam warna dan ukuran tata panggung. Kecuali jika mereka bergerombol. Pun demikian, karakter kebinatangan itu tidaklah nampak. Warna yang dipilih baik untuk busana maupun rias kurang bisa memunculkan karakter binatang yang dinginkan. Hal ini didukung oleh tata lampu yang seolah kurang memberikan dukungan untuk tata rias dan busana. Semua nampak temaram meski cahayanya terang. Tata lampu seringkali memainkan warna cahaya yang sebenarnya tidaklah perlu karena sama sekali tidak membantu mood adegan yang ditampilkan. Semua penata masih terjebak untuk menampilkan sesuatu yang indah, menginginkan persis seperti aslinya namun kurang bisa berbicara. Keseluruhan tata artistik tampil seolah hanya untuk memenuhi format atau standar (minimal) yang diberlakukan. Tidak ada konsep menyeluruh dan mendalam atau menantang, sebagai pijakan kreasinya. Bahkan dari jejak produksi teater SMK 12 Surabaya dapat ditengarai bahwa karya tata artistik ini merupakan pengulangan produksi sebelumnya namun dengan kualitas yang tidak lebih baik.

Pada sajian lain, lakon “Boncel” ditampilkan dengan beragam bentuk dan gaya dalam satu panggung. Lakon ini bercerita tentang seorang miskin yang meninggalkan rumahnya untuk bekerja. Pengalamannya membawa keberuntungan dan akhirnya menjadikan dirinya seorang Demang. Namun perubahan nasib itu tidak diikuti ketetapan pekerti. Ketika satu saat orang tua sang Demang berkunjung, ia menolak keras keberadaan keduanya. Ia tak lagi mengakui dan justru mengusir orang tuanya. Khas cerita rakyat dengan pesan yang sangat jelas di mana Demang yang bernama Boncel itu akhirnya menerima karmanya. Lakon ini ditampilkan dalam bentuk sajian beraneka namun serba nanggung. Beberapa adegan ditampilkan secara musikal, namun hanya berhenti di situ saja. Artinya sebagian besar adegan tidak menganut aspek drama musikal. Dialog berirama dan gaya khas teater rakyat berpadu dengan realisme. Mungkin saja tampilan ini dapat disebut teatrikal namun jauh dari teatrikalime karena hampir tidak ada yang menonojolkan skill pemeran dalam bidang lain selain seni peran itu sendiri. Lagu dan tarian tidak sampai menyajikan kualitas suara dan gerak atau komposisi tari yang wah. Dari sisi ini jelas, konsep pertunjukan yang dikerjakan secara bersama ini kurang mendalam. Kurang komprehensif.

Dari sisi peran, Boncel sebagai tokoh utama tampil kurang bisa membawa dinamika lakon terutama pada perubahan wataknya yang begitu drastis. Teknik kontras tidak dimunculkan di sini. Hal ini menyeret pada ending di mana dalam pertunjukan itu Boncel menyadari perbuatannya dan berteriak merana memanggil-manggil kedua orang tuanya. Ending yang semestinya dramatis, namun karena kontras tak terbangun maka hasilnya kurang greget. Bapak dan Ibu Boncel melakoni peran yang bisa dikatakan lumayan meski di beberapa adegan nampak mereka kurang menyatu. Kehadiran mereka sebagai orang tua cukup kuat jika tidak diselingi guyonan dengan para pedagang yang tidak perlu. Secara sederhana lakon ini hanya berkisah tentang ketiga tokoh utama itu. Selebihnya adalah pendukung cerita. Juragan dan para pekerja di mana Boncel pertama kali mengabdi, para pemburu, kijang, pedagang, penjaga, dan istri pertama serta kedua Boncel merupakan tokoh-tokoh pendukung. Dari sisi interpretasi cerita, justru peran kijang lah yang menjadi kunci karena ia yang mengantarkan Boncel mengabdi ke seorang Demang yang kelak akan digantikannya. Para pemburu tidak berhasil menangkap kijang sebagai maskot sayembara berhadiah pekerjaan di Kademangan. Sementara Boncel yang tanpa sengaja ditubruk oleh si kijang justru bisa menangkapnya. Dalam pertunjukan pun sebenarnya kehadiran kijang ini menarik, namun sayang ia kurang dianggap penting keberadaannya. Mungkin karena kijang tidak bisa dan tidak ada jatah untuk berdialog.

Soal interpretasi cerita yang menjadi bagian krusial konsep pementasan inilah sebenarnya yang membuat kedua lakon di atas kurang tersaji secara maksimal. Sebagai bahan dasar perwujudan artistik teater berbasis naskah, cerita menjadi sangat penting sifatnya. Ia tidak bisa sembarangan dipotong, diubah, disesuaikan, dan lain sebagainya. Perlu pertimbangan aspek dramatika yang tidak bisa dilakukan secara serampangan. Apalagi mengingat bahwa teater adalah bahasa lakuan di mana dialog atau wicara tokoh akan menemukan makna sesungguhnya ketika diomongkan disertai gerak-gerik dan ekspresi wajah sesuai situasi dan kondisi yang ada pada saat itu. Bukan perkara mudah memang, karena dialog bukanlah kerja menghafal. Dalam hal ini sebenarnya siswa SMK 12 sudah mampu melakonkan apa yang diucapkan namun ansambel terkadang kurang bisa bertemu. Begitu pula mood  dan dramatic tension yang ingin dibangun. Pemeran utama seolah menikmati perannya sendiri sehingga sering terlihat kaku ketika harus melakukan aksi-reaksi dengan pemeran lainnya. Aksi-reaksi terlihat hanya seperti yang telah dilatihkan saja. Bukan sesuatu yang hidup dan wajar. Sementara itu teater dramatik mensyaratkan berlakunya ruang dan waktu di dalam peristiwa yang dialami sehingga mood setiap latihan (satu ruang-waktu) dan pada saat pementasan (ruang-waktu lain) pastilah berbeda.  Keberbedaan ini semestinya menubuh dalam kualitas aksi-reaksi para pemeran.

Selain itu faktor elementer sering masih muncul seperti misalnya kurang hafalnya dialog atau terselip lidah ketika berbicara. Tidak begitu menjadi soal kiranya hal-hal kecil ini jika tidak menganggu kerja ansambel pemeranan di dalamnya. Sayang, ketika terselip lidah atau tidak hafal dialog ini melahirkan jeda tak tepat sehingga kelihatan ada yang hilang dari kalimat yang hendak diucapkan. Karena konsep ruang-waktu dalam peristiwa teater itu kurang begitu dipahami (apa yang terjadi  di atas panggung itulah peristiwa sesungguhnya dan bukan hanya sekedar menerapkan hasil latihan), kesulitan salah satu pemeran ini tidak segera ditimpali oleh pemeran yang lain. Akhirnya mood adegan menjadi terganggu. Soal lain adalah penggunaan dialek. Cerita yang berlatar budaya Jawa Barat kemungkinan besar hendak disampaikan sebagaimana aslinya. Namun di tengah jalan mereka mengalami kesulitan sehingga latar budaya ini disesuaikan. Akan tetapi pada saat pementasan sebagian pemeran masih menggunakan dialek Jawa Barat dalam dialognya. Hal ini pun dibenarkan oleh para pemeran tersebut. Mereka mengalami kesulitan untuk mempertahankan atau meninggalkan dialek itu. Hal yang sangat sederhana namun cukup mengganggu latar budaya yang hendak ditampilkan. Canggung. Yang terakhir dan paling terlihat meski tidak mempengaruhi dramatika lakon adalan gerakan tarian yang kurang kompak baik motif maupun timingnya. Tidak sampai merusak adegan namun ketidakserempakan ini menjadikan sajian gerak dan lagu kurang memesona.

Ditinjau dari sisi penampilan secara keseluruhan, apa yang disajikan oleh siswa teater SMK 12 Surabaya baik minat Tata Artistik maupun Pemeranan sangat menarik. Untuk kualitas setingkat siswa sekolah menengah bisa dikatakan baik. Yang perlu mendapatkan perhatian adalah konsep dan format pertunjukan yang digunakan sebagai ujian. Hampir semua siswa membuat konsep, namun energi mereka dihabiskan  untuk menelaah lakon yang semestinya bukan menjadi bagiannya. Telaah lakon ini sangat krusial karena akan menentukan bentuk serta gaya pementasan. Semua elemen artistik harus mengikuti konsep ini kemudian. Jika ini dikerjakan oleh siswa, apalagi secara kelompok, pasti hasilnya jauh dari kata optimal. Siswa sebaiknya menjadi pelaksana dan oleh karena itu konseptor adalah pengajar atau pekerja seni pendidikan yang ditunjuk. Konsep inilah yang memadukan seluruh elemen dalam sajian pementasannya. Sehingga tugas artistik mereka adalah mewujudkan konsep tersebut ke dalam karya artistik sesuai bidang yang ditekuninya. Rancangan karya artistik berdasarkan konsep pementasan yang sudah ditetapkan inilah yang semestinya dibuat sebelum proses pelaksanaannya. Memang tidak mudah bagi konseptor namun hal itulah yang sekiranya lebih fair bagi siswa. Sebab dalam pementasan “Boncel”, terlihat pembagian peran kurang begitu begitu berimbang. Ada yang double cast, ada yang menjadi peran utama, dan ada yang hanya tampil sebentar saja untuk standar penilaian yang sama. Demikian pula halnya dengan “Welcome to the Peternakan”, di mana penata panggung hanya satu orang untuk menata panggung yang cukup besar sementara para penata rias-busana hanya bertanggungjawab atas rias-busana 1 karakter saja. Tentu saja hal ini mengait format pertunjukan yang akan ditampilkan dalam mengadopsi keberimbangan tugas dan tanggung jawab setiap peserta uji. Bukan perkara mudah, namun perlu dipertimbangkan untuk perbaikan. Salam dan sukses!!

Surabaya-Jogja, Feb, 2018

Eko Santosa, saat ini bekerja di P4TK Seni Budaya Yogyakarta. Aktif berkarya bersama Studio Teater dan WhaniDProject.

sumber : http://gelaran.id/ujian-teater-smk12-surabaya/

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.