Eduteater

Catatan Tentang Pelatihan Teater dan Aktor (9)

Oleh: Eko Santosa

9. Budaya Berlatih

Seorang pemeran harus menghidupkan budaya berlatih dalam dirinya. Latihan semestinya menjadi kebutuhan. Dalam makna yang lebih luas, hal ini dimaksudkan untuk menjaga fokus terhadap seni peran. Latihan tidak hanya berkaitan langsung dengan latihan tubuh, suara, dan perwatakan namun semua hal yang dirasa penting dalam menunjang seni peran. Penumbuhan budaya berlatih ini memang tidaklah mudah karena banyak pemeran dan calon pemeran yang berlatih ketika sedang terlibat dalam proses produksi. Bahkan kemungkinan hal ini telah dianggap sebagai sebuah kewajaran. Oleh karena itulah diperlukan satu kesadaran bahwasanya teknik pemeranan yang dimiliki seseorang selamanya tidak bisa menetap jika tidak terus dilatihkan. Persis seperti olahragawan profesional yang mesti berlatih sebab sadar bahwa posisi juara akan dinamis berganti. Tidak berlatih sama dengan menyerah sebelum bertanding.

baca juga : Catatan Tentang Pelatihan Teater dan Aktor (8)

Hal pertama yang perlu ditumbuhkan adalah pemeliharaan fokus akan seni peran. Penjagaan fokus sendiri merupakan salah satu proses latihan dan sangat penting maknanya. Banyak aktor profesional mengasah kemampuan dirinya dalam seni peran dengan menjaga fokus ini. Artinya, apapun yang ia lakukan diupayakan berkaitan dengan seni peran sehingga pengalaman sehari-hari dapat berubah menjadi pengalaman estetik. Seorang aktor panggung, tiba-tiba dalam satu waktu tertentu bergabung dengan kelompok musik dan tampil di kafe-kafe tingkat menengah ke bawah bukan dalam rangka menambah penghasilan namun dalam upaya mengasah kemampuannya dalam hal olah suara dan musikalitas. Banyak hal yang bisa dikerjakan oleh pemeran dalam keseharian yang jika fokus dari kegiatan tersebut tidak lepas dari seni peran, maka banyak manfaat yang ia dapatkan.

Umum ditemui bahwa seorang pemeran mesti hanya bekerja dalam produksi pementasan teater, drama televisi atau film. Selain itu dianggap tidak ada kaitannya dengan seni peran. Penjara anggapan ini rupanya telah berkembang biak dalam kurun waktu lama sehingga banyak seniman seni peran yang tidak memiliki kegiatan (kerja sampingan) namun tetap bersikukuh bahwa kerja selain bermain peran adalah melacurkan diri. Sebuah anggapan yang sama sekali tidak masuk akal namun memiliki daya magis sehingga banyak orang memelihara anggapan tersebut.

Padahal dengan tetap menjaga fokus terhadap seni peran, maka semua pekerjaan yang dilakukan di luar seni peran justru memberikan pengalaman yang bisa memperkaya pemikiran dan jiwa pemeran. Persis seperti seorang mahasiswa yang mengambil kerja paruh waktu sebagai pelayan restoran di sela waktu kuliahnya. Mahasiswa ini tidak sedang melacurkan kompetensi akademiknya melainkan ia menempa diri agar dapat mempertahankan kompetensi akademik yang dipelajari di kelak kemudian hari. Mahasiswa pekerja ini tetap fokus pada kuliahnya karena memang ia mengambil kerja paruh waktu untuk mendukung proses perkuliahannya. Pengalaman kerja paruh waktu ini akan memberikannya kemampuan manajemen diri yang jelas sangat diperlukan dalam kehidupan.

Dalam logika umum, seseorang yang memperkaya dirinya dengan pengalaman di luar kompetensi utama yang dimiliki lebih kaya sudut pandangnya. Pengalaman-pengalaman itu akan memberikan perspektif lain dalam memandang sesuatu. Di dalam khasanah seni peran, perspektif sangatlah diperlukan sehingga ekspresi emosi tokoh dapat terjelaskan secara mendetail. Perspektif ini tidak hanya berasal dari tokoh lakon seperti tertulis dalam naskah, namun juga dari tokoh lain dan pengalaman pribadi pemeran. Perspektif dari pengalaman pribadi inilah yang menentukan kedalaman dari pemaknaan atas karakter yang akan dimainkan. Hal ini dikarenakan seni peran tidak hanya menyangkut soal pemahaman dalam pikiran namun juga bagaimana ekspresi lakuannya. Pengalaman pribadi dapat dijadikan referensi lakuan. Secara sederhana, banyaknya pengalaman yang dialami dalam kehidupan dalam berbagai macam aktivitas dan pekerjaan akan memperkaya memori tubuh akan lakuan. Di sinilah letak pentingnya membangkitkan budaya berlatih dalam makna fokus pada seni peran atas semua kegiatan yang dilakukan dalam kehidupan. Kesukaan menetap (tak bergerak) akan mengurangi memori tubuh atas segala macam lakuan yang mungkin direfleksikan melalui karakter tokoh di atas panggung. Budaya berlatih adalah budaya seni peran, oleh karena itu setiap pemeran harus memiliki budaya berlatih ini, lain tidak. (**)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.